“Kesembuhan Sejati”: Renungan, Jumat 25 Juni 2021

0
1589

Hari biasa (H).

Kej. 17:1,9-10,15-22; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mat. 8:1-4.

Dunia banyak dilanda kecemasan dan kesakitan. Dunia menjadi luka dan berduka. Bencana alam seperti banjir, longsor, gempa bumi dan sebagainya, sering kali terjadi di mana-mana. Apakah peristiwa-peristiwa ini mengguncang iman, sehingga manusia menjauh dan bahkan menyalahkan Allah tanpa menyadari bahwa diri sendirilah yang mengakibatkan semuanya terjadi? Atau sebaliknya, peristiwa-peristiwa tersebut dapat mendekatkan diri kita dengan Allah.

Bacaan Injil hari ini berbicara tantang orang kusta yang disembuhkan Yesus. Kusta adalah penyakit yang sangat ditakuti oleh masyarakat pada zaman itu. Orang yang sakit kusta dianggap najis dan diasingkan oleh masyarakat sekitar.  Coba bayangkan jika kita berada di posisi tersebut? Tentunya perasaan kita pasti terombang-ambing dan merasa malu, kemudian dikucilkan  oleh masyarakat sekitar. Namun bacaan Injil hari ini menampilkan sebuah situasi yang berbeda. Yesus sibuk dengan orang banyak, tetapi orang yang menderita sakit kusta berhasil melewati kerumunan orang hingga dapat berbicara dengan Yesus.  Orang kusta itu tahu dan percaya bahwa Yesus dapat melakukan segala sesuatu. Ia memiliki kuasa sehingga tidak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Keyakinan ini membuat si penderita kusta berani dan tanpa ragu-ragu memohon kesembuhan dari Yesus. Melihat orang kusta itu, muncullah belas kasihan dari Yesus untuk menyembuhkannya. Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata “Aku mau, jadilah engkau tahir”. Seketika itu juga tahirlah orang kusta itu. Setelah itu, Yesus melarangnya untuk memberi kesaksian tentang penyembuhannya kepada orang lain. Inilah yang menjadi dasar dari kesembuhan sejati.

Injil menampilkan perjuangan seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus dan meminta kesembuhan. Perjuangan demi kesembuhan inilah yang menjadi prioritas dari orang yang sakit kusta. Hal ini berbeda dengan realitas sekarang, sering kali manusia lupa akan Tuhan dalam pergumulan hidup. Syukurlah tak sedikit orang sakit datang kepada Tuhan untuk meminta kesembuhan. Namun, tak sedikit pula orang melupakan Tuhan ketika sakit dan berusaha mencari kesembuhan ke mana saja. Mestinya kita memberikan segala suka dan duka kepada Yesus. Maka, marilah kita mencontohi si penderita kusta yang tidak segan-segan datang kepada Yesus, karena punya kerinduan untuk mendapat kesembuhan. Datanglah kepada Yesus dengan kerendahan hati dan sikap menyembah, seraya menyerahkan seluruh kehidupan kepada-Nya, sebab Yesus tahu apa yang kita butuhkan.

(Fr.Mario Rumsory)

“Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: Aku mau, jadilah engkau tahir. Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya” (Mat. 8:3).

Marila berdoa:

Tuhan, dalam suka maupun duka, kuserahkan seluruh hidupku kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini