“Kerajaan Orang Bijak”: Renungan, Kamis 3 Juni 2021

0
1367

Pw S. Karolus Lwanga dkk. Mrt. (M)

Tb. 6:10-11; 7:1,6,8-13; 8:1,5-9a; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mrk. 12:28b-34.

Hukum adalah aturan-aturan berupa norma dan sanksi yang dibuat dengan tujuan untuk mengatur kelangsungan hidup manusia. Hukum merupakan unsur penting dalam kehidupan bermasyarakat. Meski merupakan hal yang amat penting, hukum bukanlah hal yang bisa berjalan begitu saja melainkan perlu ditegakkan oleh petugas-petugas penegak hukum dan perlu dijaga oleh setiap orang.

Dalam Injil hari ini, dikisahkan bagaimana seorang Farisi bertanya kepada Yesus dan kemudian menerima pujian dari Yesus karena bijaksananya jawabannya atas perkataan Yesus. Orang Farisi itu bertanya hukum mana yang terutama. Yesus menjawab bahwa hukum yang terutama ialah mengasihi Tuhan Allah. Dan hukum yang kedua menurut Yesus ialah mengasihi sesama. Mendengar jawaban Yesus, orang Farisi itu kemudian berkata-kata dengan bijaksana, menjawab perkataan Yesus.

Karena begitu bijaksananya ia, Yesus kemudian memujinya dan berkata kepada-Nya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah”. Jawaban Yesus ini seolah mau menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang bijaksana dekat dengan Kerajaan Allah. Dari situ kita bisa berpendapat bahwa Kerajaan Allah mungkin dipenuhi dengan orang-orang yang bijaksana. Apakah kita juga bisa sampai ke sana? Apakah kita juga dapat dilayakkan untuk masuk ke sana?

Tentu saja kita bisa. Bagaimana kita bisa menjadi orang bijaksana yang layak masuk ke dalam kerajaan Surga? Hal pertama yang dapat kita lakukan tentunya mengandalkan Tuhan dalam kehidupan. Kita harus menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Tobia dalam bacaan pertama telah memberikan contoh tindakan bijaksana dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika nyawanya terancam ia kemudian berdoa dan mohon perlindungan Tuhan.

Kebijaksanaan bukanlah hal yang didapat begitu saja tanpa belajar dan berusaha. Bahkan, terkadang kebijaksanaan memerlukan pengorbanan. Namun, bagi orang yang bijaksana mengorbankan sesuatu tentu bukan tanpa alasan. Sesuatu akan dikorbankan jika hasil yang diperoleh itu lebih besar lagi. Hal itulah yang dilakukan Santo Karolus Lwanga dan kawan-kawannya. Mereka rela mengorbankan diri mereka demi mempertahankan iman mereka. Namun, balasan yang mereka terima juga bukan main-main. Sebagai hadiah atas pengorbanan itu, mereka tentu menerima kehidupan abadi dalam sukacita di surga.

Pertanyaannya, apakah kita juga berani untuk berjuang dan bahkan sampai berkorban demi menjadi seorang yang bijaksana dalam beriman? Kita tahu bahwa hadiah dari kebijaksanaan dalam beriman adalah sukacita abadi di surga. Masihkah kita takut mengorbankan kebahagiaan di dunia demi kebahagiaan kekal di surga?

(Fr. Gabriel Billy Runtu)

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mrk. 12:31a),

Marilah berdoa:

Ya Bapa, bantulah kami menjadi bijaksana dalam beriman. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini