Hari Biasa (H)
Sir. 51: 12-20; Mzm 19: 8,9,10,11,; Mrk. 11: 27-33
Bait Allah adalah ‘rumah doa bagi segala bangsa’ (Yes. 56:7). Semua orang boleh datang ke sana untuk menyembah Allah. Demi menjaga kesuciannya, Sanhedrin menempatkan petugas yang mengatur tiap orang sesuai dengan hukum dan peraturan agama Yahudi. Tetapi orang yang datang ke situ tidak bisa memakai Bait Allah untuk berdoa karena dipenuhi dengan aneka aktivitas perdagangan. Yesus, didorong oleh rasa cinta-Nya, ‘menyucikan’ bait Allah. Tindakan-Nya ini mendatangkan pertanyaan besar tentang asal-usul kuasa-Nya, sebab ia bukan petugas Bait Allah; tidak mendapatkan kuasa dari Sanhedrin. Tindakan Yesus yang mengusir para pedagang, sesungguhnya mau memperlihatkan kesalahan mereka yang telah mengizinkan orang-orang untuk membuka usaha di Bait Allah.
Bait Allah yang seharusnya menjadi tempat yang sakral atau suci, digunakan sebagai tempat untuk mencari keuntungan. Yesus sudah mengetahui maksud dan tujuan dari mereka. Mereka menutupi kebenaran demi kepentingan mereka sendiri. Sehingga Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka. Yesus tidak perlu menjawab pertanyaan mereka karena sesungguhnya mereka hanya menutupi kebenaran. Persoalannya mereka bukan tidak tahu kebenaran tetapi memilih untuk menutupinya. Padahal sudah jelas bahwa kuasa Yesus adalah kuasa Allah. Menyerahkan hidup kita pada kuas Yesus membawa kita masuk dalam suatu kebenaran bahwa Allah berkarya atas hidup kita.
Banyak orang tidak meragukan sumber otoritas Yesus, sebab mereka mengakui-Nya sebagai Allah (bdk. Luk 1:68) yang bertindak dan mengajar dengan penuh kuasa (bdk. Mrk. 1:22). Namun, kita bisa saja menolak untuk melihat keberadaan dan aktivitas Allah dalam situasi tertentu yang tidak kita alami, atau dalam diri orang tertentu yang tidak kita sukai. Tapi Allah dapat memakai mereka untuk berkomunikasi dengan kita. Dalam situasi itu, yang paling tepat adalah bukan menilai sarannya, tetapi pesan kebaikan dan keselamatan yang ditujukan bagi kita. Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk memperkenalkan Yesus Kristus melalui hidup kita. Kehidupan kita seharusnya menjadi saksi akan kebenaran firman Allah. Janganlah kita menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kehidupan kita setiap hari selayaknya memperlihatkan firman Allah. Yang kita lakukan semestinya sama dengan apa yang kita katakan.
(Fr Paskalis Jaftoran)
“Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (Mrk. 11:11-26).
Marilah Berdoa:
Yesus Kristus, bantulah aku untuk mencari, melihat dan menanggapi kehadiran-Mu dalam setiap pengalaman hidup harian, melalui sesama di sekitarku. Amin











