“Maria Teladan Orang Beriman”: Renungan, Senin 31 Mei 2021

0
3744

Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabeth (P) 

Rm. 12:9-16b; Yes. 12:2-3,4-5-6; Luk. 1:39-56.

 

Saudara-saudari terkasih, impian setiap wanita yang sudah berkeluarga adalah untuk memiliki anak. Pada umumnya keluarga yang baru saja menikah memiliki harapan yang besar agar segera memiliki anak. Anak merupakan salah satu tujuan utama dari sebuah perkawinan. Perkawinan yang sakral akan diberkahi oleh Tuhan lewat buah cinta dari pasangan tersebut. Anak menjadi bukti ikatan cinta yang besar antara suami dan istri.

Saudara saudari yang terkasih, Maria adalah sosok teladan bagi semua umat manusia karena lewat Bunda Maria Allah menyatakan diri-Nya bagi manusia. Pada hari ini Gereja merayakan Pesta Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabet, sebuah peristiwa yang sangat bersejarah bagi umat manusia. Kunjungan Maria kepada Elisabet menjadi satu momen di mana Maria dan Elisabet sama-sama saling menguatkan dalam kasih. Kata-kata yang disampaikan Elisabet dengan jelas mau menegaskan siapa Maria. Elisabet yakin dan percaya sehingga ia berbahagia mendapat kunjungan dari Tuhan. Keyakinan Elisabet dibuktikan lewat kata-kata “siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku”. Ketika salam dari Maria sampai di telinga Elisabet, maka bayi yang berada di dalam perutnya melonjak kegirangan. Artinya bahwa Elisabet yakin dengan sungguh-sungguh bahwa anak yang berada dalam perut Maria adalah Tuhan. Dalam bacaan pertama kita dengarkan bahwa kasih itu janganlah berpura-pura, dan hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Kasih harus memenuhi hati setiap orang hal ini dibuktikan oleh Elisabet dan Maria yang penuh kasih menerima firman Tuhan dalam diri mereka.

Saudara-saudari yang terkasih, ketegaran hati Maria membuat ia dengan tulus dan penuh iman menerima Tuhan dalam dirinya. Keyakinan Maria kepada Tuhan membuatnya tidak meragukan sama sekali rencana Allah bagi dirinya. Ia rela menanggung segala beban yang begitu besar di punggungnya yang begitu kecil. Iman dan cinta kasih membuat Maria yakin dengan sungguh, dengan memuliakan Tuhan hatinya bergembira. Maria yakin bahwa Allah telah merencanakan sesuatu yang besar dalam dirinya.

Saudara-saudari yang terkasih, dengan berbesar hati Maria dan Elisabet menerima rencana Tuhan dalam diri mereka, rencana yang sama sekali tidak mereka ketahui. Iman yang besar kepada Tuhan membuat mereka yakin dengan sungguh-sungguh akan rahmat Allah. Iman yang tidak tergoyahkan ditunjukkan oleh Maria dan Elisabet. Pertanyaannya, apakah kita memiliki iman untuk percaya kepada Tuhan? Kasih Tuhan begitu besar dalam hidup kita, lantas apakah kita hanya sebagai penikmat kasih Allah? Maria dan Elisabet adalah contoh nyata tentang kasih dan pengorbanan, berkorban demi keselamatan banyak orang.

(Fr. Wensislaus Nowinrian)

“Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan” (Luk. 1:44).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga hari ini aku semakin bertumbuh dalam iman dan keyakinan. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini