Sir. 42 15-25; Mzm. 33:2-3,4-5,6-7,8-9; Mrk. 10:46-52
Tak seorangpun dapat hidup tanpa harapan. Pengharapan memberikan dinamika kepada hidup kita. Harapan adalah kehidupan jiwa. Jiwa yang tidak punya harapan adalah jiwa yang mati. Sebagaimana tubuh mati bila jiwanya pergi, demikian pula jiwa itu mati bila sumber hidupnya hilang. Pengharapan Kristiani adalah suatu keyakinan yang pasti, suatu jaminan yang kokoh. Pengharapan itu tidak berdasarkan atas keinginan sendiri, tetapi berpangkal pada kebaikan Tuhan. Kehendak Tuhan itu dapat dipahami dengan iman. Melalui iman, kita dapat mengenal Allah secara pribadi dan mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri.
Pengharapan dan iman yang sedemikian itu ditunjukkan oleh Bartimeus dalam bacaan Injil hari ini. Bartimeus seorang pengemis yang buta berseru meminta bantuan Yesus. Walaupun dilarang agar menghentikan seruannya, ia semakin keras berteriak “Yesus anak Daud, kasihanilah aku”. Yesus mendengar teriakan orang buta itu dan kemudian menyuruh memanggilnya. Bartimeus meninggalkan segalanya dan mengarahkan dirinya kepada Yesus. Bartimeus akhirnya dapat melihat lagi karena imannya kepada Yesus. Setelah sembuh ia meninggalkan segalanya, mengikuti Yesus di sepanjang jalan dan pergi bersama-Nya menuju Yerusalem.
Bartimeus menjadi teladan bagi kita semua yang ingin “mengikuti Yesus di sepanjang jalan” menuju Yerusalem. Dalam keputusan berjalan bersama Yesus ditemukan sumber keberanian dan benih kemenangan di kayu Salib. Kita dapat menemukan Allah dalam pengalaman-pengalaman hidup kita, dalam kebutuhan dan pengharapan manusia dan dalam segala sesuatu yang indah dari ciptaan. Demikian kemuliaan Tuhan dalam alam semesta menjadi bukti dan sarana bagi kita untuk mengenal Allah juga melakukan kehendak-Nya. Seperti kata pemazmur “…firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia Tuhan”. Kita pun diajak untuk ambil bagian dalam karya Keselamatan Tuhan di dunia.
Karena itu kita perlu mengacu pada Kristus sebab Ia menunjukkan kita apa artinya menjadi sungguh-sungguh manusia. Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup. Paus Yohanes Paulus II menulis, “Manusia yang ingin memahami dirinya dengan sepenuhnya… harus mendekati Kristus dalam kegelisahannya, ketidakpastiannya dan bahkan dalam kelemahan dan kedosaannya, dalam kehidupan dan kematian”. Seruan kepada Allah adalah harapan akan keselamatan, tetapi tidak hanya berhenti pada seruan tetapi harus mengikuti Dia dan melakukan Kehendak-Nya.
(Fr Leon Ze)
“Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”
(Mrk.10:52a)
Marilah berdoa:
Yesus sumber pengharapan, kasihanilah kami yang berseru kepada-Mu dan teguhkanlah iman kami untuk mengikuti Engkau agar lewat karya cinta kasih, kami sungguh-sungguh melakukan kehendak-Mu. Amin.











