Hari Raya Tritunggal Mahakudus (P)
Ul. 4: 32-34, 39-40; Mzm. 33: 5-5,6,9,18-19,20,22; Rm 8: 14-17; Mat. 28-16-20.
Umumnya orang mewartakan Allah yang Mahakuasa, Maha besar, Mahatahu, Mahapengasih dan semua nama yang mengungkapkan kedahsyatan dan keagungan Allah. Sehingga manusia mengenal Allah sebagai Yang luar biasa, Dia Yang berada di atas segalanya dan jalannya tak terselami dan di hadapan-Nya manusia hanyalah debu dan kehampaan belaka; hari hidupnya laksana bayang berlalu.
Hari Raya Allah Tritunggal Mahakudus mengenalkan secara sederhana kebenaran akan Allah. Dia yang Maha dalam segalanya ternyata adalah sebuah Keluarga, sebuah Persekutuan Hidup. Ia adalah Bapa, Putera dan Roh Kudus, satu Allah yang adalah keesaan tiga pribadi. Allah menyatakan kebesaran kuasa dan kasih-Nya dan menjadikan manusia sebagai bagian dari keluarga-Nya. Dalam nama-Nya Allah menjadikan manusia anak-anak-Nya, milik kepunyaan-Nya, dan pancaran kemuliaan-Nya.
Melalui baptisan, manusia dilahirkan dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus menjadi anggota keluarga Allah. Bahkan sejak awal, Allah menciptakan manusia pria dan wanita dan memberkati mereka menjadi keesaan menurut gambar dan rupa diri-Nya. Mereka bukan lagi dua melainkan satu. Bahkan dengan kelahiran anak-anak menjadi keesaan bapa, ibu dan putera-puteri. Keluarga manusia menjadi pantulan, gambar dan rupa manusiawi dari kemuliaan serta kebahagiaan keluarga Allah yang abadi
Itulah tindakan Allah yang paling mengagumkan. Ia tidak hanya mengampuni dosa manusia untuk merubah para pendosa menjadi suci, tetapi mencurahkan Roh Kudus ke dalam diri manusia sehingga mereka mendapat kuasa menjadi anak-anak Allah. Oleh-Nya manusia dapat berseru “Abba, ya Bapa!” dan menjadi ahli waris-Nya. Manusia mendapat kuasa untuk menjadi seperti Kristus, belajar dari Kristus mengenal kehendak dan melakukan perintah Bapa di bawah tuntunan kuasa Roh Kudus.
Agar menjadi anak-anak Allah yang benar, manusia perlu diajari dan dituntun untuk menjadikan hidupnya sebagai ziarah menuju rumah Bapa, persekutuan penuh keluarga Allah. Mereka perlu belajar dengan mengikuti jejak Kristus di bawah tuntunan Roh Kudus. Allah tidak membiarkan manusia berjalan sebagai yatim-piatu. Ia menyertai manusia setiap hari sampai akhir. Kebenaran diri-Nya menjadi Visi dan Misi hidup kaum beriman, yang diserukan dalam doa setiap hari, “Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, kepada Allah yang ada sejak dahulu, sekarang dan sepanjang masa.” Dalam Dia manusia hidup, bergerak dan ada. Karena itu manusia dapat bernyanyi, “Bahagiaku terikat pada Yahwe, harapanku pada Allah Tuhan-ku”.
(Pst. Julius Salettia, Pr)
“Bahagiaku terikat pada Yahwe, harapanku pada Allah Tuhan-ku.”
Marilah berdoa:
Tuhan Allah kami, buatlah kami bangga menjadi anggota keluarga-Mu dengan rajin beribadat dan tekun berbuat baik sesuai teladan Kristus dan di bawah tuntunan Roh Kudus. Amin.











