Hari Biasa Pekan IV Prapaskah (U)
Yer. 11:18-20; Mzm. 7:2-3,9bc-10,11-12; Yoh. 7:40-53
Bacaan-bacaan hari ini menceritakan tentang keteguhan iman dari Nabi Yeremia dan pengakuan akan Yesus Kristus. Dalam bacaan pertama, dikisahkan bagaimana Nabi Yeremia tetap berpegang teguh pada Tuhan saat nyawanya terancam. Ia tidak gentar, karena ia percaya akan kuasa Tuhan. “Sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku”. Kalimat ini menjadi ungkapan iman dari nabi Yeremia kepada Tuhan yang Mahakuasa.
Dalam bacaan Injil dikisahkan dengan jelas tentang pengakuan orang banyak akan Yesus Kristus. Ada orang yang berkata “Dia ini benar-benar Nabi yang akan datang” dan yang lain berkata “Ia ini Mesias”. Pengakuan ini tercermin dari setiap perkataan Yesus sendiri.
Di samping itu ada pula yang menganggap bahwa Yesus bukanlah Mesias. Kemudian dikatakan bahwa para imam kepala dan orang Farisi mengatakan, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Para penjaga itu menjawab, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu”. Jawaban ini menyatakan bahwa para penjaga itu turut percaya kepada perkataan Yesus, namun kepercayaan itu goyah karena harus tunduk kepada para imam kepala dan orang Farisi.
Di sini Nikodemus yang adalah seorang pemimpin agama Yahudi serentak mengenal Yesus, hadir dan membela Yesus dari perkara yang terjadi. Namun, ia pun disingkirkan oleh para imam kepala dan orang Farisi. Mereka telah dibutakan dengan rasa dengki dan iri hati, sehingga berkeinginan untuk membunuh Yesus, karena melihat begitu besar karya-karya dan pewartaan Yesus bagi orang banyak.
Percaya akan Yesus Kristus adalah hal yang sangat penting dalam hidup. Lewat keteguhan iman kepada Kristus, menghantar kita pada keselamatan dan kebahagiaan yang abadi. Keteguhan iman dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni dengan selalu yakin dan percaya kepada Tuhan dalam segala cobaan dan ujian yang ada. Pada akhir zaman, Tuhan akan mengadili kita. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Yeremia, “Tuhan semesta alam, yang akan menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati”. Oleh karena itu keselamatan hanya dapat kita peroleh di dalam Dia.
Semuanya ini dapat terjadi asalkan kita mau dengan tulus melaksanakan kehendak Allah. Semua kehendak-Nya terwujud dalam diri Yesus. Untuk itulah Yesus menjadi patokan/model dalam melaksanakan kehendak Allah.
(Fr Robertus Batseran)
“… sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku” (Yer. 11:20).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, teguhkanlah iman kami agar mampu melaksanakan apa yang Engkau kehendaki. Amin.











