“Percayalah Agar Selamat!”: Renungan, Kamis 18 Maret 2021

0
1953

Hari Biasa Pekan IV Prapaskah (U)

Kel. 32:7-14; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Yoh.5:31-47.

Dalam realitas hidup manusia, relasi satu sama lain mudah saja rapuh. Salah satu penyebabnya adalah sikap saling tidak percaya. Bacaan pertama hari ini menampilkan pertentangan dan konflik yang terjadi dalam perjalanan bangsa Israel. Mereka tidak percaya kepada Musa sebagai utusan Allah sebagai pelindung dan pembebas mereka dari tanah Mesir.

Sikap ketidakpercayaan orang Yahudi kepada Yesus ditunjukkan dalam bacaan Injil hari ini. Mereka tidak percaya kepada Kristus Putera Allah yang akan menyelamatkan mereka dari perbudakan dosa. Allah Maha Pengasih tidak pernah berhenti menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Namun manusia sendiri yang senantiasa menanamkan ketidakpercayaan kepada Allah dan tidak menghiraukan kasih Allah itu.

Yesus yang diceriterakan oleh Penginjil Yohanes hendak membuka mata mereka. Wajah Allah dan kepribadian-Nya yang tidak mereka lihat itu, kini telah nyata dalam pribadi Kristus sendiri yang sudah ada bersama-sama dengan mereka. Melihat orang Yahudi yang masih berada dalam keragu-raguan itu, Yesus pun menunjukkan bukti yang akurat kepada mereka bahwa jika mereka percaya kepada Musa, tentu mereka percaya kepada-Nya. Sebab apa yang dituliskan Musa itu adalah semua tentang-Nya.

Dalam bacaan pertama, bangsa Israel itu diselamatkan dari tanah perbudakan Mesir karena adanya kepercayaan kepada Musa dan kepada Allah sebagai penolong mereka. Sedangkan dalam bacaan Injil, Yesus tampil memancarkan wajah Allah dan kepribadian-Nya di tengah-tengah orang Yahudi agar mereka tidak ragu-ragu melainkan percaya kepada-Nya.

Dalam menjalankan tugas-Nya, Yesus telah berusaha meyakinkan manusia dengan beberapa bukti yang akurat agar manusia dapat percaya dan diselamatkan oleh-Nya. Tetapi bagaimana tanggapan manusia terhadap karya penyelamatan itu?

Kini menjadi bahan refleksi kita bersama. Bahwa jika kita ingin diselamatkan perlu adanya kepercayaan karena itulah kunci untuk selamat. Kepercayaan teguh perlu dibangun atas dasar komitmen bahwa Allah yang Maha Pengasih tidak pernah meninggalkan kita dari perbudakan dosa melainkan senantiasa menyelamatkan kita.

(Fr. Yohanes Berechmans Lury)

“Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku” (Yoh. 5:46).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, teguhkanlah kami dalam menaruh pengharapan dan kepercayaan kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini