Hari Biasa Pekan Prapaskah IV
Yeh. 47:1-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 5:1-16
Dalam kehidupan pribadi maupun sosial, setiap orang pasti merasakan betapa susahnya hidup tanpa air. Karena dengan demikian banyak hal yang tidak dapat kita lakukan dalam aktivitas keseharian kita. Maka kita dapat memahami bahwa air merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Sebab bila kebutuhan tersebut kurang bahkan tidak ada, banyak aspek yang terganggu, terlebih kesehatan kita. Hal lain bahwa dalam ilmu kedokteran, dikatakan bahwa sebagian besar tubuh manusia itu adalah air. Karena itu manusia membutuhkan air/cairan untuk menjaga kesehatan dan kehidupan.
Hal serupa merupakan inti yang akan kita refleksikan bersama dalam permenungan kita hari ini. Namun pada permenungan ini, kita tidak melihat air sebagai suatu material yang termasuk dalam kebutuhan pokok manusia. Tetapi kita merenungkan perumpamaan dari air ini sebagai sumber kehidupan yang dipancarkan atau dialirkan oleh Allah kepada kita. Agar kita sendiri yang adalah ciptaan-Nya dapat memperoleh keselamatan.
Dalam antifon pembuka diungkapkan dengan sangat bagus bahwa barangsiapa haus, hendaklah ia minum dari sumber air kegembiraan. Dan hal ini pula secara spesifik ditegaskan dalam bacaan pertama, tentang sebuah sungai yang mengalir dari Bait Suci ke seluruh penjuru. Dan air itu menjadi sumber kehidupan bagi setiap makhluk yang datang untuk meminumnya. Dalam kitab Yehezkiel ini dikisahkan dengan sangat bagus bahwa tanpa air manusia tidak dapat hidup. Dan kehidupan manusia itu sangat tergantung dengan air, sebagai penunjang hidup. Akan tetapi dalam ungkapan atau analogi tentang air di sini, masih mengarah kepada sesuatu yang bersifat material.
Bertolak dari bacaan pertama, bacaan Injil mengarahkan kita kepada air sebagai sumber hidup yang berpusat pada Yesus sendiri. Seorang yang sakit selama tiga puluh tahun alhasil disembuhkan Yesus. Dengan mempercayakan diri pada Yesus si sakit ini bisa sembuh dari penyakitnya. Demikianlah karena iman ia memperoleh rahmat dari Tuhan berupa kesembuhan.
Rahmat Tuhan senantiasa tercurah kepada manusia. Karena cinta-Nya, sebagaimana air yang mengalir, Tuhan tak henti-hentinya mencurahkan rahmat pada kita. Yang perlu kita lakukan adalah menanggapi rahmat itu dengan bertobat. Sebagaimana si buta mengangkat tilamnya dan berjalan, demikian pun kita mesti mengangkat diri kita dan berjalan meninggalkan perbuatan dosa. Kiranya di masa Prapaskah ini kita mampu bertobat dan mau membarui diri sehingga layak menerima rahmat keselamatan dari Allah bagi kita.
(Fr. Romaldo Fangohoi)
“Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (Yoh. 5:8).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, tuntunlah diriku untuk selalu minum dari mata air keselamatan yang Engkau pancarkan.











