“Bersenang-senang Kemudian” : Renungan, Jumat 5 Maret 2021

0
1809

Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)

Kej. 37:3-4, 12-13a,17b-28; Mzm. 105: 16-17, 18-19, 20-21; Mat. 21:33-43, 45-46.

Pernahkah kita bertanya, apakah saya telah bersyukur sebanyak berkat yang Tuhan berikan? Apa yang saya buat dalam hidup saya untuk menjawab berkat-Nya itu? Dalam hidup, kita melihat dan mengalami beragam macam hal yang menuntut kita berproses dan mengikuti hal tersebut. Proses tersebut menuntun kita pada apa yang diinginkan. Namun apakah yang kita inginkan merupakan hal yang bermanfaat atau hanya menjadi pemuas bagi kesenangan hasrat kita.

Dalam kisah kedua belas anak Yakub, karena iri terhadap perlakuan Yakub terhadap Yusuf, maka mereka menjual Yusuf kepada orang Mesir. Kemudian, dalam perjalanannya, Yusuf diangkat menjadi raja. Hal serupa pun dikisahkan dalam Injil mengenai para penggarap di kebun anggur. Mereka membunuh para utusan termasuk anak dari pemilik kebun anggur itu, karena keinginan menguasai kebun tersebut.

Dari kisah-kisah tersebut digambarkan dua hal penting. Pertama, Yusuf menjadi pralambang dari Kristus yang akan mengalami penolakan, dijual oleh bangsa Israel dan kelak akan mengalami kemuliaan dalam kebangkitan-Nya. Kedua, kebun anggur menjadi gambaran berkat Allah bagi manusia yang perlu untuk dikembangkan, Para penggarap adalah orang-orang yang dipercayakan berkat tersebut, pemilik itu ialah Allah, orang yang diutus adalah para nabi dan anak-Nya ialah Yesus sendiri yang ditolak, disiksa dan dibunuh.

Dari situ dapat dilihat, bahwa kedua bacaan Kitab Suci tersebut memberikan makna penting dalam hidup kita yakni berkat Tuhan telah kita terima secara gratis. Namun terkadang kita tak menghiraukan hal tersebut. Kita seperti para anak Yakub yang menjual saudara sendiri dan para penggarap yang membunuh para utusan dan anak dari pemilik kebun itu, dan ketika kita tak menerima apa yang diterima oleh orang lain, kita memberontak dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan hal yang kita inginkan, sampai kita berani menyakiti sesama kita.

Kita memang orang berdosa yang sering kali lupa diri dan sombong dengan keadaan kita atau iri bila orang lain lebih daripada kita. Namun apakah kita sadar dengan apa yang kita buat itu, apakah kita akan menjadi seperti para penggarap? Jika demikian, maka kebinasaan akan menyambut kita. Namun, satu hal yang hendak dikatakan Yesus kepada kita yakni bertobat dan menjadi rendah hati serta menjadi pekerja yang setia. Dengan demikian, kita menimba hasil yang membahagiakan kelak bersama Dia dalam kemuliaan abadi.

(Fr. Johanes Feygthi Sandehang)

“Kerajaan Allah akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat. 21:43).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkan dan mampukanlah aku agar selalu setia pada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini