“Setia sampai akhir”: Renungan, Jumat 5 Februari 2021

0
1766

Pw. S. Agata, Perawan dan Martir (M)

Ibr. 13:1-8; Mzr. 27:1, 2, 5, 8b-9abc; Mrk. 6: 14-29

Setia sampai akhir adalah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan kehidupan para martir. Para martir rela mengorbankan nyawa demi mewartakan iman akan Yesus Kristus. Hal inilah yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini dan juga Santa Agata, perawan dan martir, yang kita peringati hari ini. Mereka berdua rela mengorbankan nyawa demi membela iman dan mewartakan kebenaran. Tindakan mereka menandakan keberanian dan kesetiaan. Mereka menunjukkan bahwa dunia tidak bisa menghancurkan iman dan kematian tidak menjadi akhir bagi orang yang beriman pada Allah Tritunggal.

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Ibrani mengingatkan kita bahwa Allah tidak akan meningggalkan dan membiarkan kita. Walaupun manusia berada dalam jurang yang gelap, namun Tuhan akan selalu hadir melindungi dan memberkati, sehingga kita diberi kekuatan dan keberanian. Kita juga diingatkan untuk menghormati mereka yang sudah mengorbankan nyawa demi bertumbuhnya iman di dunia ini. Kita harus melihat kehidupan para martir terdahulu. Satu hal yang penting juga adalah kita harus melihat dan meneladani kehidupan Yesus. Kita harus meneladani tindakan Yesus Kristus dan juga para martir. Yesus rela mengorbankan nyawa demi menebus dosa umat manusia, sedangkan para martir rela mengorbankan nyawa mereka demi mewartakan kebenaran di tengah dunia. Semua ini untuk keselamatan seluruh umat manusia.

Melihat kehidupan Yesus dan para martir adalah tindakan yang bijak sebagai seorang yang beriman. Yesus dan para martir mengajarkan tentang arti kesetiaan. Kita diajak oleh Yesus untuk berani mewartakan kabar bahagia di tengah tantangan zaman ini. Kita juga diajak untuk setia dan siap dalam segala situasi, walau harus mengorbankan nyawa kita sendiri. Semua ini demi kemuliaan nama Allah Tritunggal.

Di zaman ini ada begitu banyak tantangan yang coba menggoyahkan iman kesetiaan kita, misalnya perkembangan teknologi dan aksi-aksi terorisme. Oleh karena itu, Rasul Paulus mengajak kita untuk selalu berdoa dan meneladani kehidupan Yesus, serta kehidupan para martir terdahulu. Apakah kita bisa menghadapi tantangan zaman dan setia sampai akhir? Apakah kita berani untuk mewartakan iman kita di tengah dunia ini? Dan apakah kita siap untuk mengorbankan diri kita?

(Fr. Fidelis Kumarurung)

“Aku sekali-sekali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan Engkau” (Ibr. 13: 5b).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, semoga saya berani dan setia untuk mewartakan kabar bahagia di tengah-tengah dunia ini. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini