“Puasa: Jalan Persatuan”: Renungan, Jumat 19 Februari 2021

0
1383

Hari Jumat ses Rabu Abu (U)

Yes 58:1-9a; Mzm. 51:3-4,5-6a,18-19; Mat. 9:14-15.

Perjalanan hidup manusia diwarnai dengan beraneka aktivitas penting dan menarik demi mewujudkan sebuah tujuan hidup yang jauh lebih baik. Ada begitu banyak jalan yang harus dilalui demi mencapai kesucian. Ada jalan doa,  puasa, amal dan ketiga ini tidak terpisah satu sama lain. Doa dan puasa yang disertai karya amal tidak hanya bertujuan untuk mencapai kesucian hidup melainkan untuk kebaikan sesama dan kemuliaan Tuhan.

Melalui bacaan-bacaan hari ini, Allah berbicara kepada umat-Nya tentang bagaimana cara berpuasa. Nabi Yesaya menyampaikan pesan dari Allah bahwa puasa bukan cuma sekadar tidak makan dan minum, sebab puasa merupakan perwujudan dari pertobatan. Nabi Yesaya menolak puasa dan mati raga yang semata-mata semu saja. Menurutnya, puasa sejati ialah mematahkan belenggu-belenggu dosa dan memberi kebebasan kepada sesama. Puasa yang dikehendaki Allah adalah tobat dari perilaku yang tidak baik dan tidak benar, baik terhadap Tuhan maupun sesama. Bila demikian maka permohonan kita akan dikabulkan.

Dalam Injil, Yesus mau mengajarkan bahwa berpuasa itu bukan hanya sekedar mengikuti aturan atau rutinitas belaka, seperti yang dipersoalkan oleh murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi terhadap murid-murid Yesus. Terhadap persoalan yang terjadi, Yesus mengatakan bahwa “dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?” Mempelai laki-laki adalah Yesus sendiri dan para sahabat mempelai laki-laki adalah para murid-Nya.  Para murid tidak berdukacita karena mereka sadar bahwa pengantin laki-laki yang dijanjikan dan dinantikan kini sudah ada bersama mereka dalam diri Yesus Kristus. Sementara murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi berpuasa karena menantikan dengan rindu kedatangan mempelai laki-laki, yakni Sang Mesias.

Puasa yang dikehendaki Yesus adalah puasa yang harus lahir dari kesadaran diri. Puasa harus menjadi jalan tol untuk bersatu dengan Dia. Seperti para murid bergembira, karena Yesus berada di tengah-tengah mereka. Maka melalui kesadaran diri, kita mengalami kegembiraan sebab Yesus ada bersama kita. Karena itu, kita  wajib membuka hati agar dikunjungi Tuhan. Kita harus mempraktikkan ibadah puasa, doa dan karya amal sebagai bentuk pertobatan yang sejati. Dengan demikian, dalam masa prapaskah ini, puasa kita akan menjadi jalan tol yang menghantar kita semua bersatu dengan Kristus.

(Fr. Benny Fasak)

 

“Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan tidak menyembunyikan diri terhadap sesamamu sendiri” (Yes. 58:6-7).

 

 

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, bantulah kami membaharui diri melalui jalan pertobatan. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini