“Koyakkanlah Hatimu”: Renungan, Rabu 17 Februari 2021

0
2120

Hari Rabu Abu (U)

Yl.2:12-18; Mzm 51:3-4.5-6a.12-13.4.17; 2Kor.5:20-6:2; Mat.6:1-6.16-18.

 

Dalam Liturgi Gereja, Rabu Abu dikenal sebagai pembukaan dari masa prapaskah yang merupakan sebuah panggilan bagi kaum beriman untuk bertobat dan menemukan jalan keselamatan di dunia dan di surga kelak. Penerimaan abu di dahi berbentuk salib adalah ungkapan kesediaan kaum beriman sebagai konsekuensi dari kesadaran diri akan asal diri dan sarana keselamatan yang terungkap dalam Injil sebagai kabar gembira.

 

Bacaan hari ini menunjukkan kebaikan Allah yang terungkap dalam pesan-pesan Yesus bahwa di masa tobat, kita perlu sadar diri dengan bertolak pada tiga tindakan konkret, yakni bersedekah, berdoa dan berpuasa. Tiga tindakan itu juga menjadi ukuran kita memaknai masa tobat karena berkaitan dengan relasi dengan Tuhan, diri kita sendiri dan relasi dengan sesama. Namun, berkaitan dengan ketiga aksi itu, pentinglah kita mewujudkan sikap tobat dengan bertanya apakah kita bertindak itu dengan hati? Nabi Yoel menunjukkan cara bertobat terbaik adalah mengoyakkan hati kita atau membaharui hati kita, karena unsur terpenting dari pertobatan terletak pada dorongan hati kita untuk bertobat dan menyesali dosa kita. Oleh karena itu, bilamana kita sanggup membaharui hati kita maka masa pertobatan akan sungguh bermakna dan sikap kemunafikan dalam berdoa, berderma dan berpuasa tidak memengaruhi niat pertobatan bagi keselamatan kita sebagai orang-orang pilihan Allah.

 

Paulus juga mengingatkan kita untuk berdamai dengan Allah di masa tobat ini. Salah satu cara adalah membaharui hati kita agar kasih karunia Allah tidak menjadi sia-sia. Bertindak dengan hati di masa tobat ini adalah panggilan kepada kita untuk peduli dan berusaha agar rahmat Allah sungguh menjadi buah keselamatan. Pertanyaannya, bagaimana pertobatan itu lebih bermakna? Kita perlu memulai dengan penyadaran diri melihat hati nurani kita sendiri apakah kita sudah bertindak dengan dorongan hati? Masa tobat ini baiklah kita berusaha membaharui hati kita untuk menemukan kualitas sikap dan tindakan sebagai orang-orang pilihan Allah. Ada tiga cara yang perlu kita upayakan yakni pertama, bertindak dengan mengikuti hati agar dipercaya oleh orang lain, murni dan semakin mesra dengan Allah agar kelak seperti sabda Yesus: “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan memandang Allah”. Kedua, mencari sumber hidup yang baik, seperti membaca Kitab Suci, mengikuti kegiatan kerohanian. Ketiga, perlunya koreksi diri atau instrospeksi diri selama masa tobat ini.

(Fr. Edward Salilo)

 

Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu….” (Yl. 2:12).

 

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga kami memiliki dorongan hati yang murni dalam setiap tindakan kami di masa tobat ini. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini