“Kasih-Nya Takkan Pudar”: Renungan, Sabtu 13 Februari 2021

0
1987

Hari Biasa (H)

Kej. 3:9-24; Mzm 90:2.3.-4.5-6.12-13; Mark. 8:1-10

Kasih pada dasarnya merupakan sebuah pilihan. Pribadi kitalah yang memilih untuk mau mengasihi atau tidak. Kebebasan kita untuk mengasihi sesama terletak pada kata hati kita. Sebagai orang Kristen, kasih perlu menjadi identitas kita dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan, sebagaimana tertuang dalam Hukum Cinta Kasih.

Injil hari ini menceritakan perbuatan kasih Yesus. Dengan kasih-Nya, Ia tergerak untuk memberikan makanan bagi banyak orang. Dikatakan bahwa, “Yesus mengangkat ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikanya kepada murid-muridNya untuk dibagi-bagikan”. Dengan tindakan kasih-Nya, peristiwa mujizat pelipat-gandaan roti dan ikan pun terjadi. Hal ini menunjukkan betapa besar kepedulian dan kasih Tuhan kepada umat-Nya yang lapar. Dia pun ingin melibatkan para murid-Nya dalam tugas pelayanan kasih serentak pula mengajarkan mereka untuk mengasihi sesama.

Saudara terkasih, dalam hidup,  manusia seringkali tidak mengindahkan kasih dan kepedulian Tuhan. Mereka memilih untuk melawan dan tidak mengasihi-Nya. Keadaan inilah yang menyebabkan retaknya hubungan kasih yang ada. Tampak jelas dalam bacaan pertama bahwa hubungan kasih Adam dan Hawa dengan Allah telah retak dan hilang. “Tuhan Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil”.

Peristiwa ini disebabkan oleh usaha mereka untuk menyejajarkan diri mereka dengan Allah serta menentukan sendiri norma-norma mereka. Keadaan ini membuat mereka diusir dari taman Eden dan mulailah hidup bersandar dengan Allah di tengah-tengah pencobaan. Namun, Allah tetap mengasihi mereka sehingga Ia mengalahkan iblis dengan memperdamaikan manusia dan dunia dengan diri-Nya dengan mengorbankan nyawa Anak-Nya sendiri.

Saudara terkasih, kasih Tuhan kepada manusia takkan pernah pudar. Bagaimana tanggapan kita atas kasih Tuhan? Kasih kepada Tuhan dapat diwujudnyatakan lewat tindakan terhadap sesama. Kasih itu suka memberi dan menolong orang lain. Kasih kita kepada-Nya harus tanpa syarat. Pepatah Denmark mengatakan bahwa “jarak berikutnya adalah satu-satunya pilihan yang harus dijalani”. Kita perlu sadar bahwa Allah mengasihani kita dan memampukan kita untuk bertahan dalam jalan yang tampak sulit dan panjang.

Melalui bacaan-bacaan hari ini, Yesus mengajak kita untuk tetap setia menaruh kasih kepada Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, jika kita merasakan kasih-Nya dan mengisi hati kita dengan kasih-Nya niscaya hidup kita dapat sungguh-sungguh berbahagia.

(Fr. Marthen Fernando Letsoin)

 “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini” (Mrk. 8:2).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, ajarkanlah kami untuk tetap mengasihi-Mu dan sesama kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini