“Bertekun di Padang Gurun”:  Renungan, Rabu 3 Februari 2021

0
2452

Hari Biasa (H)

Ibr. 12:4-7,11-15; Mzm. 103:1-2, 13-14,17-18a; Mrk 6:1-6

Dalam kehidupan yang kita jalani sekarang, terkadang kita sering mengalami panas terik kehidupan, berbagai rintangan dan cobaan. Kehidupan padang gurun yang sangat panas dan nyaris tanpa setetes airpun terkadang menggambarkan kehidupan kita sekarang.

Pada bacaan pertama, Allah secara langsung menasehati kita untuk kuat dalam menghadapi panas terik atau padang gurun kehidupan. Allah mendidik anak-Nya untuk menjadi kuat lewat siksaan dan cobaan yang Ia berikan. Apa tujuan dari semua ini? Sesungguhnya lewat semua itu Allah mau agar anak-anak-Nya kuat seperti unta yang mampu hidup di padang gurun.

Hal lain yang mau Allah katakan lewat semua itu, yaitu Allah sungguh-sungguh menganggap kita sebagai anak. Dimanakah terdapat anak yang tidak diajar oleh ayahnya? Dari semua itu, Allah mau agar kita menjadi kuat untuk menghadapi tantangan dan rintangan hidup kita.

Begitu pula bacaan Injil memperlihatkan bagaimana Yesus ditolak di tempat asal-Nya. Seorang nabi diterima di mana-mana namun tidak di tempat asalnya. Dalam kehidupan kita, tentu kita tak luput dari berbagai penolakan. Penolakan merupakan suatu tantangan yang sangat keras. Hanya mereka yang setia dan bertekun dalam ajaran Yesus yang dapat bertahan dari segala tantangan ini.

Sungguh jelas bahwa kedua bacaan ini mau mengajak kita untuk tetap kuat dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan dalam kehidupan ini. Namun terkadang juga kita sering lari bahkan sembunyi dari tantangan ini. Ketakutan kita membuat kita menjadi buta akan kasih dan cinta Yesus. Jika kita berada di posisi ini, maka ingatlah akan pengorbanan Yesus yang mati di kayu salib demi siapa? Yaitu demi kita anak-anak yang dikasih-Nya.

Saudara-saudari yang terkasih, bacaan-bacaan hari ini menuntut kita untuk bertekun dalam menghadapi padang gurun kehidupan. Setiap cobaan, tantangan dan rintangan yang kita hadapi semata-mata adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada anak-anak-Nya. Maka dari itu marilah kita melihat dalam diri kita, apakah kita sudah kuat menghadapi padang gurun kehidupan? Jika belum, percayalah dan bertekunlah dalam kasih Tuhan.

(Fr. Randy Tirukan)

“Seorang Nabi dihormati di mana-mana kecuali kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan dirumahnya “
( Markus 6:4)

Marilah Berdoa:

Tuhan, didiklah aku agar menjadi kuat dalam menghadapi  tantangan dan rintangan kehidupan.  Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini