“Allah adalah baik”: Renungan, Jumat 12 Februari 2021

0
1455

Hari Biasa (H).

Kej. 3:1-8; Mzm. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 7:31-37

Dalam realitas hidup manusia zaman sekarang, banyak dijumpai pengalaman di mana mata hati orang tertutup karena kuatnya godaan duniawi. Hal ini didasarkan pada sikap egois yang ada dalam diri manusia. Sikap egois manusia ini yang mengakibatkan sehingga manusia menjadi rapuh dan mudah jatuh ke dalam tindakan yang mendatangkan dosa baginya dan sesama. Dengan demikian, bantuan yang sangat diperlukan oleh sesamanya pun sulit disalurkan karena sikap egois yang ada dalam diri manusia tersebut.

Kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa dalam bacaan pertama, sesungguhnya hendak memperlihatkan sikap egois manusia yang merasa diri setara dengan Allah. Kejatuhan itu sesungguhnya disebabkan oleh keputusan manusia semata dengan menentang perintah Allah, kendati kejatuhan tersebut disebabkan juga oleh godaan dari si jahat (ular). Dengan memakan buah pohon terlarang, mata manusia terbuka dan penuh dengan kesadaran akan yang baik dan yang buruk. Bahkan, mereka pun sadar bahwa mereka sedang telanjang dan akhirnya mereka merasa malu akan hal itu. Namun, kendati mereka berbuat dosa dan melawan kehendak Allah, pada akhirnya Allah tetap mengasihani mereka dan memberi pengampunan kepada mereka.

Dalam Injil hari ini dikisahkan suatu peristiwa yang menarik. Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap. Ia memasukkan jari-Nya ke telingga orang itu, lalu meludah dan meraba lidahnya serta menengadah ke langit, menarik nafas serta berkata dalam bahasa Aram, “Efata!” yang berarti “Terbukalah.” Dengan demikian terlinga orang tuli itu bisa mendengar. Dan orang tuli itu diselamatkan oleh karena imannya kepada Allah.

Mujizat penyembuhan yang dibuat Yesus mau mengambarkan kasih dan kebaikan-Nya, bahwa Ia adalah “baik”. Melalui peristiwa itu, Yesus mau mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Putra Allah yang menampakkan “Allah yang penuh kebaikan” dan selalu mendengarkan keluh kesah ciptaan-Nya. Dari pengalaman kasih Allah itu, kita diajak untuk hidup pula dalam kebaikan Allah tersebut. Kita mesti meneladani sikap Yesus yang memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan. Dan dengan sendirinya pula selaku manusia,  kita menyalurkan rahmat dan kebaikan Allah kepada sesama. Oleh karena itu, biarlah Allah membuka mata hati kita, agar supaya terbuka pada kehendak Allah. Sehingga kita dimampukan berjalan pada jalan yang benar dan tiba pada keselamatan kekal yang didambakan.

Fr. Januarius Heatubun)

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!(Mzm. 32: 1).

Marilah berdoa:

Ya Bapa yang Mahabaik, lindungilah kami dalam hidup kami sehari-hari agar meneladani Putera-Mu dan memancarkan kebaikan-Mu kepada sesama kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini