Hari Biasa (H)
Ibr. 5:1-10; Mzm. 110:1,2,4; Mrk. 2:18-22.
Saudara terkasih, Orang Yahudi sangat terkenal dengan kedisiplinan dalam menjalankan praktik keagamaan. Salah satunya ialah mengenai hal berpuasa. Karena kedisplinan, orang Yahudi mendalami dan menghayati puasa sampai wajah terlihat lesu, kusut dan pucat. Hal ini dilakukan bukan hanya menaati kebiasaan dan aturan yang berlaku, tetapi lebih dari pada itu untuk memperoleh pujian sebagai orang yang saleh.
Saudara terkasih, bacaan pertama mengisahkan tentang ketaatan Yesus dalam menjalankan tugas perutusan yang diberikan oleh Bapa-Nya. Sekali pun Dia adalah Allah, tetapi Ia taat dalam tugas-Nya. Ketaatan yang ditunjukkan oleh Yesus merupakan ketaatan untuk mengalami penderitaan kepada kesempurnaan. Oleh sebab itu, sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya. Ketika kita hidup dalam ketaatan akan Yesus maka siapa saja menjadi sahabat-Nya.
Dalam bacaan Injil, Yesus ditampilkan sebagai orang yang tidak menjalankan puasa seperti kebiasaan orang Yahudi saat itu. Karena itu para murid Yohanes Pembaptis dan orang Farisi bertanya mengapa Yesus tidak berpuasa. Rasa penasaran itu kemudian terjawab dalam perumpamaan bahwa menjadi murid Yesus berarti bersuka cita dan hidup dalam nuansa yang baru. Pertama, praktik mengenai hal berpuasa bukannya tidak baik, tetapi kurang tepat. Karena suasana perkawinan dilukiskan sebagai saat yang penuh sukacita. Saat itulah Yesus datang membawa sukacita. Kedua, Yesus menunjukkan diri-Nya dengan perumpamaan mengenai kain dan anggur baru. Dengan anggur setiap orang disegarkan dari dalam (jiwa) dan dengan kain baru setiap orang terlihat lebih baik dari luar (tubuh). Keduanya memiliki relasi dalam kehidupan manusia bahwa, ketika seseorang memperlihatkan di luar pekerjaan baik, maka dengan iman setiap orang mau dibaharui di dalam Dia.
Saudara terkasih, bacaan-bacaan yang kita dengar hari ini mengarahkan kita untuk taat pada perintah yang ditetapkan oleh Allah, sebagaimana Yesus yang ditampilkan dalam bacaan pertama dan bacaan Injil. Injil dapat dikatakan bahwa Yesus tidak taat pada aturan dan ketetapan dalam bangsa Yahudi. Namun, Yesus tidak mengajak para murid-Nya untuk melakukan perbuatan yang bertentangan melainkan meluruskan bahwa puasa adalah bentuk pengabdian dan praktik kesalehan untuk Tuhan bukan untuk manusia. Demikian pun bagi kita dalam hidup setiap hari.
(Fr Longginus Rumangun)
“Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr. 5:9b).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, terangilah akal budiku dengan rahmat Roh Kudus-Mu agar aku selalu setia dan taat pada kehendak-Mu. Amin.











