“Sungguh, Aku Tidak Layak”: Renungan, Sabtu 2 Januari 2021

0
1900

Pw S. Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze, UskPujG (P)

1Yoh. 2:22-28; Mzm. 98:1,2-3ab, 3cd-4: Yoh. 1:19-28.

Suatu kebenaran tidak datang dari perkataan yang salah. Demikianlah yang ditampilkan Yohanes Pembaptis dalam Injil yang mengatakan sesuatu seturut kebenarannya. Yohanes Pembaptis mengatakan kebenaran iman yang luar biasa tentang Yesus karena ia menyadari dengan sungguh siapa dirinya dan siapa itu Yesus. Yohanes yang semula sudah mengenal Yesus, tidak mengingkari pengenalannya akan Yesus, karena ia tahu resiko bila mengatakan ketidakbenaran tentang Yesus yang sudah ia kenal. Resiko ini jelas dikatakan dalam bacaan yang pertama: “Sebab barang siapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barang siapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa” (1Yoh 2:23).

St. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze yang kita peringati hari ini adalah para teolog dan pujangga Gereja yang berpengaruh besar dalam memperjuangkan imannya. Injil hari ini juga menampilkan Yohanes Pembaptis yang tampil untuk bersaksi tentang Yesus. Maka, tiga tokoh besar dalam Gereja ini memiliki pengaruh, diakui, dan disanjung banyak orang. Tetapi mereka tidak merasa terbuai dengan segala kehormatan itu. Mereka malah menunjukkan contoh yang benar bagaimana menjadi pewarta saksi iman. Sebagai seorang saksi iman yang sejati bersaksilah dengan benar. Maka apa karakter seorang saksi iman yang sejati?

Yohanes, ketika ditanya apakah dia adalah Mesias, atau Elia, atau nabi yang akan datang,  menjawab ‘tidak’. Padahal itulah status-status kehormatan tersendiri yang luar biasa. Malah ia dengan lantang bersaksi tentang Yesus Kristus bukan dengan kemegahan diri, kesombongan atau keangkuhan karena dianggap memiliki status sosial yang besar, tetapi dengan penuh kerendahan hati mengakui bahwa Yesus Kristus lebih berkuasa dari padanya. Dia mengatakan, “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Yoh. 1: 27).

Dua orang kudus yang kita peringati hari ini dan Yohanes Pembaptis yang ditampilkan dalam Injil, hendak menunjukkan kepada seluruh pengikut Kristus bahwa suatu kebenaran tidak harus dicapai dengan menyandang banyak prestasi, memiliki kedudukan sosial yang tinggi, dihormati dan diakui di mana-mana. Mereka adalah para saksi iman yang hebat namun tidak sehebat Yesus Kristus. Kerendahan hati merekalah yang membuat mereka menjadi pewarta yang hebat.

(Fr. Vitalis Irman Bille)

 

“Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Yoh. 1: 27).

Marilah berdoa:

Tuhan, berikanlah aku semangat kerendahan hati ketika bersaksi tentang Engkau sebagai Mesias, Putera Allah. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini