Hari Biasa (H)
Ibr. 4:13-16; Mzm. 19:8-9,10,15; Mrk. 2:13-17.
Menjadi orang yang mempunyai keinginan untuk memimpin orang lain perlu adanya sikap rendah hati. Dalam relasi sosial dengan orang lain, tentu semua pribadi akan berusaha untuk memimpin orang lain. Terkadang mereka merasa hal lebih mudah, namun perlu diketahui bahwa kita seharusnya menyadarkan diri sendiri dengan sebuah pertanyaan apakah kita sudah mampu memimpin diri sendiri untuk bertindak baik dan benar.
Saudara-saudari yang terkasih, bacaan-bacaan hari ini membawa makna yang berbeda bagi kita semua terkait dengan menjadi pemimpin tanpa melihat latar belakang orang lain. Dalam bacaan Injil terlihat dengan jelas bahwa Yesus memperlakukan semua orang tanpa memandang latar belakangnya melainkan apakah orang itu mau berubah atau tidak. Hal tersebut terlihat dari apa yang Yesus lakukan; Yesus hadir dan makan bersama dengan para pemungut cukai. Inilah yang menjadi pengajaran Yesus bahwa semua orang itu berharga.
Ada sebuah kutipan dari injil (Mrk. 2: 17) bahwa Yesus mendengar apa yang dikatakan para orang Farisi dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”. Hal demikian hendak dijelaskan juga pada bacaan pertama yang lebih mengantar pada pemimpin yang bijaksana. Siapa pemimpin yang dimaksudkan dalam Surat kepada Orang Ibrani? Dikatakan dalam sebuah kesaksian bahwa Yesus, Anak Allah, yang mana semua orang bertekun dan berpegang pada ajaran Imam besar, yakni Yesus sendiri.
Bacaan-bacaan hari ini mau mengatakan apa bagi kita semua? Sesuai dengan relasi satu dengan yang lain, perlu adanya pengertian yang akan membuat kita untuk berhubungan dengan semua orang secara bijaksana. Bacaan Injil mengatakan dengan jelas untuk kita, agar kita sadar bahwa untuk memimpin orang orang lain, harus juga kita memimpin diri sendiri dan akhirnya mengarahkan kita pada satu pemahaman yang benar bahwa semua orang berharga dan sama tanpa ada pembedaan. Hal tersebut telah Yesus tunjukkan dengan jelas bahwa Ia hadir di tengah-tengah para pemungut cukai yang dianggap orang pada masa itu sebagai orang berdosa. Maka, hal penting yang patut untuk dihidupi ialah menjadi seorang yang rendah hati dan mampu membawa serta mengarahkan diri kita dan juga orang lain pada jalan kebenaran yang sejati.
(Arnoldus Jansen Buarlely)
“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15).
Marilah berdoa:
Tuhan, ajarlah kami untuk selalu menjadi orang bijaksana dalam memimpin diri sendiri dan orang lain. Amin.











