“Siap Menjadi Penuai”: Renungan, Sabtu 5 Desember 2020

0
1576

Hari Biasa Pekan 1 Adven

BcE Yes. 30: 19-21,23-26; Mzm. 147: 1-2,34,5-6; Mat. 9:35-10:1,6-8

Realita yang terjadi sekarang ini adalah orang kurang peka terhadap sesama dan hanya sibuk dengan urusan diri sendiri. Orang sibuk bekerja untuk mengejar urusan yang bersifat duniawi. Sedangkan di sisi lain, di sekitar ada banyak orang yang sedang menderita hinggga kehilangan harapan.

Kitab Yesaya menuliskan bahwa bangsa di Sion yang di Yerusalem tidak akan terus menangis, sebab Tuhan mendengar dan mengasihani ketika mendengar teriaknya. Pengajar tidak akan menyembunyikan diri lagi, melainkan mata akan terus melihat Dia.

Pemenuhan nubuat Yesaya ini dapat kita lihat dalam bacaan Injil hari ini. Bacaan Injil mengisahkan tentang bagaimana belas kasih Yesus terhadap orang banyak. Yesus berkeliling ke semua kota dan desa untuk mengajar dalam rumah-rumah ibadat, memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Hati Yesus kemudian tergerak oleh belas kasihan setelah melihat orang banyak. Mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Yesus kemudian memanggil dan memberikan kuasa kepada kedua belas murid-Nya. Ia mengutus mereka untuk pergi kepada domba-domba yang hilang untuk melakukan sebagaimana yang telah Ia ajarkan.

Belas kasih berarti rasa yang tidak saja terkandung dalam hati melainkan mengalir keluar dalam bentuk tindakan. Itulah hati Tuhan kita Yesus Kristus. Yesus telah memberikan teladan kepada kita semua tentang kasih akan sesama. Kasih-Nya kepada kita semua berpuncak pada saat kematian-Nya di kayu salib.

Panggilan Yesus kepada dua belas murid-Nya dan tugas perutusan itu adalah panggilan dan tugas yang sifatnya berkelanjutan. Kita semua yang telah menerima pembabtisan juga telah menerima panggilan dan tugas perutusan yang istimewa ini. Dengan menjadikan Yesus sebagai teladan, kita mengerti bahwa mengasihi dan melayani sesama membutuhkan pengorbanan. Karena kasih Yesus yang telah Ia ajarkan adalah kasih yang bertindak dan tidak hanya sampai pada perasaan simpati. Bagaimana mungkin seorang pelayan dikatakan sebagai pelayan tanpa tindakan pelayanan.

Oleh karena itu, bacaan-bacaan hari ini mau menegaskan kepada kita semua untuk tidak memfokuskan seluruh kehidupan pada hal-hal dunia. Kita semua diajak untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, yakni untuk menjadi penuai yang siap diutus di antara tuaian.

(Fr. Suprianus Doliti)

Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”( Mat. 10: 8b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami semua untuk semakin siap menjadi penuai dalam ladang tuaian-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini