“Rahasia Hidup Beriman “: Renungan, Rabu 30 Desember 2020

0
1517

Hari Keenam dalam Oktaf Natal (P)

1 Yoh. 2:12-17; Mzm. 96:7-8a,8b-9,10; Luk. 2:36-40.

Saat ini, dunia menawarkan berbagai pesona yang menyilaukan dan menggoda orang beriman untuk tenggelam di dalamnya. Budaya kenikmatan duniawi seakan menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh manusia. Pesona duniawi tidak hanya menenggelamkan orang dewasa melainkan semua jenjang usia. Orang beriman banyak mengeluh dengan lamanya imam yang memimpin misa dan  lamanya imam berkhotbah di dalam Gereja. Padahal, berjam-jam bisa dihabiskan oleh umat beriman untuk bersenang-senang di tempat-tempat keramaian tanpa ada keluhan.

Rasul Yohanes dalam bacaan pertama mengingatkan agar orang tidak mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Sebab ketika orang mengasihi dunia kasih akan bapa tidak ada di dalam dirinya. Mengasihi dunia yang dimaksudkan ialah mengikuti keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup. Berbagai pesona duniawi inilah yang menjauhkan manusia dari Bapa.

Untuk melawan pesona duniawi ini, Injil hari ini menampilkan sosok nabi perempuan yang bernama Hana dengan segala kualitas hidup beriman yang layak mendapat pujian. Kesetiaan Hana dalam menantikan kedatangan Sang Mesias merupakan kualitas hidup beriman yang luar biasa bagi seorang janda berumur delapan puluh empat tahun. Alhasil, penantiannya berbuah manis. Ia pun berjumpa dengan Sang Mesias. Perjumpaan dengan Yesus sungguh melahirkan sukacita dan rasa syukur yang dalam dari dalam diri Hana. Ia melihat kemuliaan dalam diri Yesus yang membawa keselamatan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kesetiaan dan ketekunan orang beriman dalam menghidupi imannya menjadi persoalan yang mendasar. Kehidupan sehari-hari menjadi padang gurun yang nyata untuk menguji kesetiaan orang beriman kala berhadapan dengan berbagai keinginan duniawi. Dorongan kenikmatan duniawi begitu kuat sehingga tidak sedikit orang kehilangan orientasi hidup berimannya yang berlandaskan kasih dan pengharapan. Menyadari dorongan keinginan duniawi yang begitu kuat, kita patut bertanya apa yang dapat kita perbuat sebagai orang beriman?

Pertama-tama perjumpaan dengan Yesus menjadi dasar kehidupan beriman melalui doa dan puasa serta kebiasaan hidup menggereja. Nabi Hana menjadi teladan nyata bagi orang beriman untuk mendalami rahasia kehidupan beriman. Dengan doa dan kita dapat selalu berjumpa dengan Yesus. Hal inilah yang menjadi rahasia agar orang senantiasa bertumbuh kuat dalam iman, penuh hikmat dan Kasih karunia Allah. Dengan demikian kita bisa menjadi orang-orang yang memiliki kualitas keberimanan yang tinggi dalam hidup.

(Fr. Damianus Daga)

“Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya hai segenap bumi” (Mzm. 96: 9).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, bantulah aku dalam menghadapi setiap pesona duniawi. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini