“Persembahan Diri”: Renungan, Selasa 29 Desember 2020

0
1626

Hari Kelima dalam Oktaf Natal (P)

1Yoh. 2:3-11; Mzm. 96:1-2a, 2b-3, 5b-6;Luk. 2:22-35

Dalam keluarga, orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Keinginan orang tua sudah ada bahkan sebelum anak lahir. Sebelum lahir orang tua sudah sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran anak tercintanya. Artinya, anak mempengaruhi pikiran dan perasaan orang tua sebelum dan sesudah kelahirannya. Setelah kelahiran, orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Hal ini selaras dengan tujuan suatu perkawinan yakni anak diarahkan kepada Allah. Dengan kata lain, anak sebagai buah cinta kasih orang tua dipersembahkan kepada Allah.

Saat ini nuansa Natal masih terasa. Dalam nuansa damai Natal ini, kita diajarkan untuk mempersembahkan segala sesuatu yang ada dalam diri kepada Allah. Dalam bacaan pertama, penulis Yohanes menunjukkan bahwa pengenalan tentang Allah harus selaras dengan tindakan. Setiap pribadi yang mengenal Allah adalah pribadi yang melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Alasannya, sebagai bagian dari keluarga Allah, manusia hidup bersama dengan Allah.

Adalah keliru mengatakan bahwa kita mengenal Bapa dan tidak mau melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Itulah sebabnya, melakukan kehendak Allah dengan mengenal-Nya menjadi suatu hal  yang penting. Dalam bacaan Injil, sikap persembahan diri semakin ditekankan. Yesus yang telah lahir dipersembahkan kepada Allah dalam Bait Allah. Maria dan Yosep adalah orang-orang yang taat aturan. Oleh karena itu, mereka melakukan aturan yang berlaku pada waktu itu. Maria ditahirkan dan Yesus dipersembahkan.

Menjadi sangat luar biasa bahwa Yesus sendiri, Anak Allah yang dilahirkan dari rahim seorang perawan suci dipersembahkan. Penulis Lukas memberikan suatu pemahaman bagi manusia bahwa persembahan kepada Allah merupakan suatu hal yang esensial. Dalam hal ini, Yesus sendiri yang dipersembahkan.

Hari ini kita diajak untuk bertindak dan mempersembahkan itu semua kepada Allah. Persembahan itu pun menyangkut diri kita sendiri. Sesungguhnya segala sesuatu yang kita persembahkan kepada Allah tidak menambah kemuliaan dan keagungan Allah. Itu karena segala sesuatu tidak sebanding dengan Allah. Tetapi adalah hal yang harus diketahui bahwa segala persembahan sangat berguna bagi keselamatan diri kita. Dengan kata lain, persembahan diri kepada Allah adalah untuk keselamatan kita. Pada akhirnya, kita dapat berkata, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan Firman-Mu”.

(Fr. Jefry Lumentut)

 “Barang siapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah” (1Yoh. 2:5a).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, kuduskanlah diri kami agar layak bagi-Mu. Amin

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini