“Pengharapan Yang Menjadi Nyata”: Renungan, Jumat 25 Desember 2020

0
1785

Hari Raya Natal (P)

E Malam, Fajar, Siang: KemSyah PrefNat ComKhus. BcE Malam: Yes 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14;Luk. 2:1-14. BcE Fajar: Yes. 62:11-12; Mzm. 97:1,6,11-12; Tit. 3:4-7; Luk. 2:15-20.

Siang: Yes. 52:7-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Ibr. 1:1-6; Yoh. 1:1-18 (Yoh. 1:1-5,9-14)

Merenungkan perayaan Natal di saat sekarang ini membawa kita pada perbedaan suasana yang menjadikannya tidak biasa. Seolah-olah kita diajak masuk dalam suasana yang bertentangan dengan makna kelahiran yang membuat banyak orang berkumpul di seputaran palungan. Walaupun demikian kita tetap dapat melihat beberapa hal yang senantiasa termuat dalam perayaan Natal ini.

Pertama-tama itulah tanda penyelamatan Tuhan yang dinyatakan di seluruh penjuru dunia sebagaimana dinubuatkan dalam kitab Yesaya. “Segala penjuru dunia akan menyaksikan penyelamatan oleh Allah”. Ini adalah sebuah penegasan yang menyatakan penghiburan Tuhan atas Israel yang menaruh harapan besar akan penyertaan Tuhan. Pengharapan inilah yang menjadi salah satu sumber kekuatan untuk menjadi setia kepada Allah. Dan jelaslah bahwa pengharapan itu tidaklah sia-sia. “Tuhan telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa”.

Hal kedua ialah bahwa lewat kelahiran ini Allah menjadi dekat dengan kita sebab “Allah berbicara kepada kita dengan pengantaraan Putra-Nya” sebagaimana ditegaskan oleh surat Ibrani. Peristiwa kelahiran memberi warna baru pada pengharapan tadi. Dengan menjadi Allah yang dekat pada manusia maka Allah tidak lagi berbicara lewat perantaraan para nabi melainkan secara langsung lewat Putra-Nya.

Bertolak dari dua keistimewaan ini, kita pun perlu menyesuaikan diri lewat perayaan ini. Bahwa pengharapan akan penyertaan Allah telah menjadi kenyataan dengan Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Lewat peristiwa kelahiran pun kita diajak untuk menjadi pelaksana Sabda itu dan juga menjadi tanda perwujudan-Nya. Dengan demikian perayaan Natal senantiasa menjadi hal yang istimewa karena kita mau menghadirkan diri kita di hadapan sang Sabda.

Artinya bahwa kita mau menaruh pengharapan besar pada-Nya karena kita mau menjadikan-Nya dekat dalam kehidupan kita. Dan terlebih menjadikan Sang Sabda sebagai sumber kepastian hidup berhadapan dengan segala ketidakpastian dan keraguan yang senantiasa menandai kemanusiaan kita. Semoga perayaan Natal tahun ini tetap akan selalu membawa kita pada kehidupan Sang Sabda sehingga segala ujung bumi pun dapat melihat penyelamatan oleh Allah kita.

(Pst. A. Bayu Nuyartanto, Pr)

 “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14).

Marilah berdoa:

Curahkanlah rahmat-Mu, agar kami yang kini merayakan misteri inkarnasi berani menjadi pembawa damai bagi sesama, dan dengan demikian kami pun menjadi sarana inkarnasi-Mu ditengah-tengah mereka. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.        

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini