“Menjadi yang Berbahagia”: Renungan, Selasa 22 Desember 2020

0
1507

Hari Biasa Khusus Adven (U)

1Sam. 1:24-28; MT 1Sam. 2:1,4-5,67,8abcd; Luk. 1:46-56. 

Kebahagiaan merupakan sesuatu yang diidam-idamkan oleh banyak orang. Orang ingin terus berbahagia dalam hidupnya. Segala upaya terus ditempuh demi memperoleh kebahagiaan tersebut. Nyatanya manusia selalu mencari-cari kebahagiaan tersebut dalam hidupnya. Ada yang bahagia ketika memiliki uang banyak, ada yang bahagia ketika berkumpul bersama teman dan yang lainnya. Demikian masing-masing orang mendefinisikan makna kebahagiaannya sendiri. Namun apa sebenarnya kebahagiaan tersebut?

Hari ini dalam bacaan Injil ditampilkan oleh dua sosok wanita yang berbahagia. Kebahagiaan mereka ini diperoleh lewat ketaatan pada kehendak Allah. Kehendak Allah dijalankan mereka dalam hidup. Karena ketaatan tersebut mereka merasakan kebahagiaan dalam hidup. Mereka berdua adalah Hana dan Maria.

Bacaan pertama menampilkan Hana yang mempersembahkan anaknya Samuel kepada Tuhan. Hana mempersembahkan anaknya Samuel kepada Allah sesuai dengan janjinya. Ketaatan mereka ini terlihat dari persembahan hidup mereka. Begitupun dengan Maria. Maria mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Rahimnya menjadi tempat bagi Tuhan untuk lahir. Karena ketaatan mereka inilah maka Allah menganugerahkan sukacita yang berlimpah. Mereka memperoleh kebahagiaan ini karena menjalankan kehendak Tuhan dengan sukacita.

Dalam bacaan Injil ditampilkan madah pujian dari Maria. Ketika dipuji bahagia oleh Elisabeth Maria memuliakan Allah karena rahmat yang diperolehnya. Maria sadar akan beratnya tugas yang hendak diembannya, namun ia tetap mensyukurinya. Maria taat kepada kehendak Tuhan dalam dirinya. Ia yakin bahwa Tuhan tak akan meninggalkannya sebab “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar” kepadanya.

Lewat kedua sosok wanita ini kita diajak untuk menjadi pribadi yang taat. Taat dalam melaksanakan kehendak Tuhan. Kadang ketika kita merasakan tantangan dalam hidup kita cepat menyerah dan jatuh dalam dosa. Namun sebenarnya tantangan tersebut menguji ketaatan kita. Apa yang dikehendaki Tuhan dari kita kadang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Namun percayalah bahwa rencana Tuhan bagi kita adalah baik adanya. Tuhan senantiasa mengharapkan yang terbaik bagi kita.

Maka, semoga kita dapat meneladani sikap Hana dan Maria yang taat kepada Tuhan. Taatilah kehendak Tuhan bagi kita hingga pada akhirnya seperti Maria kita dapat menjadi ‘yang berbahagia’. Bahagia dalam hidup, bahagia dalam menjalani kehendak Tuhan. Kiranya dalam masa penantian kedatangan Tuhan ini kita senantiasa melakukan kehendak Tuhan dalam hidup hingga akhirnya kita layak menjadi yang berbahagia dalam hidup.

 (Wilio Kalesaran)

“Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku yang berbahagia” (Luk. 1:48).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berikanlah kami kekuatan, agar kami dapat setia melaksanakan kehendak-Mu dengan sukacita. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini