“Menjadi Rekan Allah”: Renungan, Senin 14 Desember 2020

0
1412

Pw S. Yohanes dr Salib, ImPujG (P)

Bil. 24: 2-7, 15-17a; Mzm, 25: 4bc5ab, 6-7c, 8-9; Mat. 21: 23-27.

Dunia sekarang ini telah menjadi berbeda. Hal ini karena satu persoalan yakni adanya COVID-19. Persoalan ini mengubah secara penuh kehidupan manusia. Selain membawa dampak negatif bagi hidup manusia tetapi juga membawa dampak positif. Bagi mereka yang memandang peristiwa ini dengan sudut pandang positif, tentu melihat hal ini sebagai tantangan hidup sekaligus peringatan untuk lebih dekat dengan Allah. Sedangkan bagi yang memandang secara negatif tentu akan melihat hal ini sebagai petaka dan kesengsaraan, akhirnya menyalahkan Allah.

Injil hari ini berbicara tentang kuasa Yesus. Yesus orang Nazaret anak Yusuf, bagaimana mungkin dapat mengalahkan cara mengajar para ahli Taurat. Tentu dalam memberikan pengajaran Yesus tetap menghadapi berbagai persoalan seperti ada pendengar-Nya yang ragu, tidak percaya, iri hati dan sebagainya. Namun, di balik itu semua Yesus tidak jemu-jemu untuk mengajarkan umat-Nya tentang kebenaran. Karena kedekatan-Nya dengan Allah yang begitu erat sehingga sabda-Nya pun memberikan pengertian dan terang pada hati manusia sebab sabda itu juga berasal dari Allah. Memang para ahli Taurat telah mendapatkan kuasa sebagai pengajar orang Yahudi tetapi mereka berbeda dengan Yesus yang hidup bersama dengan Allah dan mengasihi Allah serta melakukan kehendak-Nya dan mengasihi mereka yang mendengarkan sabda-Nya.

Maka dari itu, sudah seharusnya kita manusia hidup lebih dekat dengan Allah. Jika kita hidup dekat dengan Allah tentunya kita akan dapat berkata-kata dan bertindak seturut dengan kehendak Allah. Sehingga, kita bisa memandang segala peristiwa yang terjadi dalam hidup kita dalam sudut padang positif, artinya bahwa kita akan selalu bersyukur kepada Tuhan bukan mengeluh kepada Tuhan. Sebab sesungguhnya apa yang terjadi dalam hidup kita itu sudah menjadi bagian dalam rencana-Nya yang tentu indah pada waktunya.

Menjadi rekan Allah tentunya harus hidup dekat dengan-Nya dan dengan demikian Roh Allah pun dapat turun atas diri kita seperti Bileam dalam bacaan dalam Perjanjian Lama tadi. Juga dengan apa yang terjadi dalam hidup Yohanes dari Salib, karena ia hidup satu dengan Allah sekali pun mengalami berbagai kesulitan dalam hidupnya tetapi tetap merasa bergembira. Karena baginya salib menuntunnya pada kebangkitan dan penyangkalan diri.

(Fr. Ferdinan Ogi)

“Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” (Mat. 21 : 23b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, terangilah  hati kami untuk selalu melakukan kebenaran dan dekat dengan-Mu serta mengasihi sesama kami. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini