Hari Biasa Khusus Adven (U)
Hak. 13:2-7, 24-25a; Mzm. 71:11-3-4a,56ab, 16-17; Luk. 1:5-25
Hal utama yang menjadi kekuatan bagi setiap orang beriman adalah keyakinan teguh bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah. Karenanya, tiada satu pun hal dalam hidup ini yang terjadi secara kebetulan. Orang beriman pasti akan melihat dalamnya kehendak Allah nyata atas setiap peristiwa hidup. Melalui cara demikian, iman setiap orang akan tumbuh terus menerus. setiap orang beriman atas cara itu dihantar pada kesadaran bahwa saya dikasihi Allah sedemikian besarnya sehingga hidup saya sepenuhnya berjalan dalam perkenanan-Nya.
Bacaan-bacaan hari ini mengisahkan hal serupa. Kisah istri Manoah dalam bacaan pertama dan juga Elisabeth dalam bacaan Injil menunjukkan secara jelas bahwa Allah sungguh tidak pernah menutup mata atas apa yang dialami oleh manusia. Karenanya kemandulan istri Manoah dan Elisabeth yang pada saat itu dianggap sebagai hal tabu bagi seorang wanita, diubah oleh Allah menjadi sebuah sukacita. Allah tak hanya memberikan kepada mereka seorang anak laki-laki, tapi juga menyertai anak-anak mereka.
Oleh karena itu, mereka boleh hidup dalam ketaaan pada kehendak Allah dan terlibat dalam karya belas kasih Allah bagi manusia. Kelahiran Simson dan Yohanes Pembaptis adalah tanda nyata bahwa mereka yang menaruh harapan pada Allah tidak akan pernah dikecewakan. Maka, pemazmur menyebut Allah sebagai “Gunung Batu Keselamatan” bagi mereka yang berlindung pada-Nya.
Iman yang mendatangkan kelahiran seorang putra yang membahagiakan bagi istri Manoah dan Elisabeth itu pun kini dapat kita alami. Kebahagiaan iman itu adalah kelahiran Kristus. Masa adven adalah sebuah masa di mana kita menantikan kelahiran Sang Juru Selamat. Kita diajak untuk hidup dalam doa dan tobat batin untuk menyambut kedatangan Kristus. Maka dari itu, pertanyaan yang hendaknya senantiasa kita renungkan dalam masa ini, adalah: sungguhkah kita merindukan kedatangan Kristus? Atas pertanyaan tersebut, masa adven yang sementara kita alami ini dapat sungguh membuka hati kita pada kasih Allah. Selain itu juga, kedatangan Putera-Nya sungguh kita imani sebagai tanda iman bahwa Allah mengasihi kita.
(Fr. Amatus Simon Petrus Letsoin)
“Sebab Engkaulah harapanku ya Tuhan” (Mzm. 71:5a).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, nyatakanlah kebesaran-Mu kepadaku dan buatlah aku makin percaya pada kuasa-Mu atas hidupku. Amin.











