Pw S. Ambrosius, UskPujg (P).
Yes. 35:1-10; Mzm. 85:9ab-10,11 12,13-14; Luk. 5:17-26; atau dr RUybs. Yes. 34:1-17.
Setiap manusia pasti memiliki harapan. Pengharapan yang dimiliki berorientasi pada tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai di masa depan. Pengharapan-pengharapan itu dapat dipicu oleh lingkungan sekitar dan diri sendiri. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini berbicara tentang pengharapan.
Nabi Yesaya tampil di hadapan bangsa Israel untuk memberikan harapan kepada mereka. Hal ini dikarenakan bangsa Israel akan dihancurkan. Penyebab kehancuran bangsa Israel ialah dosa sebagai wujud ketidaktaatan mereka terhadap Allah. Oleh karena itu, Nabi Yesaya meyakinkan kepada bangsa Israel bahwa Allah sendiri yang akan menyelamatkan bangsa Israel. Allah dijadikan sebagai sumber pengharapan dari bangsa Israel.
Pengharapan nabi Yesaya dan bangsa Israel terwujud di dalam diri Yesus Kristus. Seperti yang telah dikisahkan dalam Injil. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Dosa inilah yang dapat menyebabkan kehancuran dan kebinasaan. Akan tetapi, Yesus datang ke dunia untuk menghapuskan dosa yang berada di dalam diri manusia. Hal ini dibuktikan dengan perkataan Yesus: “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa manusia”. Akan tetapi, Yesus tidak hanya berkuasa untuk mengampuni dosa saja. Yesus berkuasa pula untuk memberikan kesembuhan bagi orang yang berharap pada-Nya. Hal inilah yang membuat si lumpuh menjadi sembuh. Pengharapan yang dimiliki olehnya membawa dia pada kesembuhan atas dosa dan penyakitnya.
Dalam realitas sekarang, manusia cenderung untuk mengandalkan kekuatan sendiri, dibandingkan percaya dan berharap kepada Allah. Allah tidak menginginkan hal demikian terjadi. Allah ingin agar kita tetap menaruh pengharapan pada diri-Nya sendiri. Alasannya bahwa Allah sendiri yang berinisiatif untuk menyelamatkan manusia. Semua itu dilakukan oleh Allah karena cinta yang begitu besar kepada manusia. Sehingga Yesus yang hadir di dunia merupakan manifestasi dari cinta Allah tersebut. Oleh karena itu, sebagai anak-anak Allah, kita sepantasnya memasrahkan setiap pergumulan dan persoalan pribadi kepada Allah. Sebab, harapan-harapan yang telah diserahkan kepada Allah tidak akan dibiarkan begitu saja. Allah dengan senang hati akan mendengarkan harapan-harapan kita. Sebab, Allah pasti akan membuat cerita berakhir dengan indah.
(Fr Fernando Letsoin)
“Kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh” (Yes. 35:10).
Marilah Berdoa :
Tuhan, jadikanlah kami pribadi yang selalu memiliki pengharapan. Amin.











