“Bebas untuk Percaya” : Renungan, Jumat 11 Desember 2020

0
1734

Hari Biasa Pekan II Adven (U).

Yes. 48:17-19; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Mat. 11:16-19. 

Kebebasan bukan terkandung dalam tindakan-tindakan yang kita sukai. Kebebasan menjadi nyata ketika kehendak selalu tertuju kepada kebenaran, bernilai, dan kemudian  harus tampak dalam seluruh aspek kehidupan. Kebebasan seperti itu dijelaskan dalam bacaan-bacaan hari ini.

Seperti yang dikisahkan dalam kitab Yesaya. Tuhan memberikan diri-Nya sebagai keselamatan bagi kita. Dia mengajar, menuntun dan terus memanggil, agar kita tetap percaya pada-Nya. Percaya berarti merasa aman dan pasti hanya dalam Tuhan sendiri. Memang Tuhan tak pernah memaksa kita untuk percaya, untuk mengikuti-Nya. Tapi Dia mengundang dan mengajak. Seperti yang dikatakan-Nya melalui nabi Yesaya hari ini: “Sekiranya engkau memperhatikan, perintah-perintah-Ku, maka damai sejahtera akan seperti sungai yang tidak pernah henti.” Krisis kepercayaan dan ketidaktahuan akan kebenaran menjadi persoalan yang dihadapi Yesus dalam bacaan Injil.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang orang-orang yang tidak melihat keselamatan yang datang baik dalam diri Yohanes Pembaptis maupun dalam diri Yesus Kristus. Yesus dinilai mereka sebagai pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.  Itulah kesalahan besar manusia. Tuhan dipikirkan dan dirasakan hanya menurut kemauan diri sendiri. Itu bukanlah iman yang sejati. Tuhan kita adalah satu-satunya Penebus, Penyelamat yang penuh kasih dan belaskasihan. Inilah kebenaran yang ada dalam diri Tuhan. Inilah Tuhan yang sedang kita nantikan kedatangan-Nya pada masa adven ini.

Tuhan mengajak kita untuk menaati perintah-perintah-Nya. Itu semata-mata karena Dia menghendaki agar kita menikmati kebahagiaan yang tak pernah berhenti. Maka kita harus menaruh kepercayaan dan harapan kepada-Nya. Kita mestinya merasa bebas untuk percaya pada Tuhan. Artinya, bebas dengan seluruh kekuatan kita, juga ketika kita merasa putus asa dan menderita. Hanya mereka yang merasa bebas untuk percaya pada Tuhan, yang akan mengalami sukacita dan kebahagiaan sejati.

(Fr. William Jansen)

“Akulah TUHAN, Allahmu yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh” (Yes. 17b).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bimbinglah kami agar supaya selalu percaya. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini