“Selamat Bersama-Nya”: Renungan, Kamis 5 November 2020

0
1548

Hari Biasa (H)

Flp. 3:3-8a; Mzm. 105:2-3,4-5,6-7; Luk. 15:1-10

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita telah menemui banyak kasus perbuatan jahat, entah itu kita dengar dan lihat melalui media sosial ataupun kita saksikan secara langsung jika hal itu terjadi di dekat tempat tinggal kita.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada banyak orang akan menjauhi mereka yang telah berbuat jahat karena takut kalau perbuatan orang-orang jahat ini akan berakibat bagi diri mereka. Mereka bahkan mengolok dan mengucilkan orang-orang jahat ini. Ketika orang-orang yang berbuat jahat ini mau bertobat malah dikira pura-pura menjadi suci, padahal sebenarnya mereka memang sungguh-sungguh ingin memulai kehidupan baru sebagai orang yang bertobat. Begitu pula dengan orang yang ingin membela orang-orang jahat ini yang dikira hanya ingin mencari perhatian dan ia pun juga dianggap sebagai orang jahat.

Peristiwa seperti ini sama halnya dengan yang dialami oleh Yesus ketika menghadapi orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang bersungut-sungut ketika Yesus menerima dan makan bersama dengan orang-orang yang berdosa. Yesus bukannya memarahi mereka tetapi Ia menasihati mereka lagi tentang betapa berharganya orang-orang yang mau bertobat bagi Allah.

Yesus memberikan perumpamaan tentang domba yang hilang. Seorang gembala tentunya mengenal dengan baik domba-dombanya, sehingga ketika ada salah satu domba yang hilang maka ia rela meninggalkan domba-domba yang lain dan pergi mencari domba yang hilang itu sampai ia menemukannya kembali. Ini menunjukkan betapa besar cinta sang gembala kepada domba-dombanya. Ia tidak membeda-bedakan antara domba yang satu dengan domba yang lain. Ia menunjukkan tanggungjawab yang sama kepada seluruh domba-dombanya.

Domba yang hilang dapat diibaratkan sebagai manusia yang seringkali menjauhi Tuhan dan membawa diri pada jurang dosa dan pada akhirnya tersesat karena merasa tidak mempunyai tempat lagi untuk kembali. Namun, sama seperti seorang gembala, begitu pula Tuhan yang tidak ingin umat manusia hilang dan tersesat. Ketika manusia hilang dan tersesat Ia dengan setia mencari dan membawanya kembali untuk bersama-sama dengan Dia. Ini menunjukkan betapa besar cinta kasih Tuhan kepada manusia. Ia tidak membeda-bedakan dalam memberi cinta kasih-Nya kepada manusia. Oleh sebab itulah manusia seringkali tidak dapat mengukur cinta kasih Tuhan ini. Dengan bersama Dia manusia pasti akan merasa aman dan selamat karena perlindungan-Nya yang tanpa pandang bulu bagi semua manusia.

(Fr. Ronald Pata)

“Aku berkata kepada mu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk. 15:10).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, tuntunlah aku agar aku selalu berada dalam naungan-Mu. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini