“Menanggapi Undangan Tuhan”: Renungan, Selasa 3 November 2020

0
3336

Hari Biasa (H)

Flp. 2:5-11; Mzm. 22:26b-27,28-30a,31-32; Luk. 14:15-24.

Ketika kita mendapat undangan pesta entah dari keluarga, teman, atau tetangga, kita diajak bersama-sama dengan mereka untuk ambil bagian dalam suka cita yang mereka rasakan. Dengan menghadiri undangan tersebut, maka kita menunjukkan sikap hormat kita kepada si pengundang. Sebaliknya, pengundang pun akan merasa bahwa ia dihargai, ketika undangan pestanya diterima. Dia akan sangat antusias. Pesta biasanya identik dengan suatu perayaan yang meriah dan makanan yang enak. Oleh karena itu, banyak orang sulit untuk menolak suatu undangan pesta.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita menjumpai suatu hal yang berbeda. Orang-orang yang diundang dalam pesta malah menolak untuk hadir. Mereka memberikan banyak sekali alasan. Ada yang sibuk mengurus ladang yang baru dibelinya, mengurus lembu, dan mengurus keluarga baru. Hal ini tentu membuat si pengundang pesta merasa sangat kecewa dan marah. Akhirnya, ia menyuruh pelayannya untuk pergi membawa orang-orang yang miskin dan cacat, orang-orang buta dan orang-orang lumpuh ke rumahnya untuk menikmati pesta jamuan menggantikan mereka yang telah diundang sebelumnya. Dengan demikian mereka yang menolak undangan kehilangan kesempatan untuk menikmati jamuan pesta.

Perumpamaan tentang seorang Tuan yang mengundang banyak orang dalam pesta jamuan ini menggambarkan juga Kerajaan Surga. Orang yang pada mulanya menerima undangan itu tetapi kemudian menolak untuk datang, menunjuk mereka yang sudah menerima warta keselamatan dari Yesus. Tapi tidak menerimanya. Mereka malah sibuk dengan hal-hal yang menjauhkan diri mereka dari keselamatan dan lebih memilih dosa yang memberikan kenikmatan. Karena mereka yang diundang malah menolak, sehingga undangan itu akhirnya diberikan kepada orang lain, yaitu mereka yang miskin dan hidup dalam keterbatasan, dan merekalah yang malah menerima undangan itu. Sehingga merekalah yang akhirnya diselamatkan.

Kita pun diundang untuk menerima keselamatan itu. Allah mengundang semua orang  tanpa terkecuali. Meskipun kita berdosa dan penuh celah, Allah tetap mengundang kita untuk diselamatkan. Akhirnya semua kembali kepada diri kita sendiri. Maukah kita menerima undangan keselamatan itu, atau malah menolaknya? Jika kita mau menerimanya, hendaklah kita mulai mengusahakan pertobatan dari dosa, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah sehingga kita bisa layak untuk masuk dalam perjamuan kekal dalam kebahagiaan bersama Allah di surga.

(Fr. Reno Sondakh)

“Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Luk. 14:15).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah kami agar mampu mengarahkan hati dan budi kami kepada-Mu agar kami layak untuk ikut dalam perjamuan kekal bersama-Mu. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini