“Di antara Dua Pilihan”: Renungan, Senin 9 November 2020

0
1613

Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran (P)

Yeh. 47:1-2,89,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; 1Kor. 3:9b-11,16-17; Yoh. 2:13-22.

Saudaraku terkasih, hari ini Gereja merayakan pemberkatan Basilika Lateran. Basilika ini dibangun dan didedikasikan kepada Santo Yohanes Pembaptis dan Santo Yohanes Rasul. Gereja ini mempunyai sejarah panjang sejak peletakan batu pertama pada abad ke-4. Pada hari ini juga melalui bacaan-bacaan Kitab Suci, kita semua diingatkan akan dua pilihan hidup, yakni menjadi pribadi yang membawa berkat bagi sesama atau menjadi pribadi yang merugikan orang lain. Tentu saja kita tidak bisa mengelak dan harus memilih di antara dua pilihan ini, karena dari pilihan-pilihan inilah kita dapat mengukur sudah sejauh mana kita berjalan bersama Kristus.

Dalam bacaan Injil digambarkan Yesus yang memarahi orang-orang yang tidak menghormati Bait Allah dan lebih mementingkan atau mengejar nilai duniawi semata. Tanpa  disadari kita-pun seringkali mengambil bagian dalam merusak Bait Allah. Bait Allah yang dimaksudkan bukan lagi bangunan mati, melainkan diri kita sendiri. Kita adalah Bait Allah itu.  Dalam menjalani rutinitas sehari-hari mungkin kita merusak diri  dengan segala perbuatan yang menjauhkan kita dengan Allah, misalnya iri hati, dengki, perselingkuhan, KDRT, korupsi, saling rebut jabatan di gereja dan lain sebagainya. Dengan adanya sifat-sifat dan tindakan-tindakan demikian, maka kita memosisikan  diri pada pilihan sebagai pribadi yang mencelakai orang lain.

Sebaliknya jika kita sungguh-sungguh menghormati diri kita, maka kita akan menjadi kediaman Allah dan lebih luar biasa lagi sebagaimana yang dikatakan dalam mazmur 46 bahwa Allah pasti menjadi  benteng kita. Saudaraku sekalian, ini semua tidaklah sulit untuk kita lakukan, jika kita sungguh-sungguh memiliki kemauan untuk bersatu merasa dengan Allah; untuk menjadi Bait Allah. Namun sebaliknya jika kita masih dipusingkan dengan keegoisan atau mementingkan urusan-urusan duniawi semata maka pasti hal tersebut tidak akan pernah terwujud walaupun kita memiliki kemauan untuk itu. Mari kita belajar dari Yohanes Rasul dan Yohanes Pembaptis, yang sungguh-sungguh mau mengakui keterbatasan mereka dan yang sungguh-sungguh mau mengikuti Yesus sebagai teladan abadi untuk kehidupan kekal. Oleh karena itu pertanyaan refleksi bagi kita semua: Apakah pilihan hidup kita: mencintai hal-hal duniawi atau mencintai Allah?

(Fr. Ivandi Pandiraja)

“Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yoh. 2:17).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah aku agar aku lebih mau memberikan diriku untuk melayani-Mu dengan menghormati sesama dan jadikanlah aku sarana-Mu untuk menyapa anak-anak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini