Pw. B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan dan Martir Indonesia (M)
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menerangkan apa yang hendaknya dicari oleh manusia. Hal itu secara jelas disampaikan bahwa ia mendapat penglihatan tentang kedatangan Sang Raja Damai, yakni Yesus. Ia akan datang ke dunia untuk mengampuni dosa manusia dan membawa kedamaian serta sukacita dan terang bagi manusia yang hidup dalam konflik dan kuasa dosa.
Injil hari ini mengisahkan Yesus menyampaikan ucapan syukur dan bahagia-Nya serta bergembira dalam Roh Kudus. Dia menunjukkan teladan agar manusia pun mampu mensyukuri apa yang ada dan telah diberikan baginya yaitu kebaikan dan kasih Bapa yang begitu besar. Meskipun manusia kadang tidak merasa bersyukur atas apa yang mereka miliki dan alami. Sebenarnya ada begitu banyak alasan untuk bersyukur, baik melalui keadaan dan pengalaman suka dan duka, pun juga dari hal-hal kecil sampai yang besar, namun begitu kehidupan adalah alasan mendasar mengapa manusia harus bersyukur. Ungkapan syukur dan bahagia hendaknya datang dan berasal dari dalam hati. Rasa syukur yang datang dari dalam hati akan memberikan ketenangan batin dan membawa sukacita bagi diri sendiri dan orang lain.
Berusaha untuk menjalani hidup dan menerima segala sesuatu dengan penuh rasa syukur adalah sebuah kegembiraan besar. Beato Dionisius dan Redemptus yang diperingati hari ini adalah mereka yang meninggalkan kehidupan mereka dan mengikuti panggilan Tuhan untuk menjadi imam dan biarawan pada usia yang sudah tidak muda lagi. Mereka bahkan dengan tabah ketika menghadapi kematian mereka sebagai martir. Maksud baik mereka, yakni membawa misi perdamaian dan persahabatan dibalas dengan kematian. Kisah hidup dan kemartian mereka menunjukkan bahwa hidup adalah sebuah peziarahan mencari makna.
Mereka menjadi teladan agar peziarahan kehidupan manusia di dunia ini pun sebagai murid Kristus, menghidupi dan mewartakan melalui pengorbanan. Setiap orang yang mampu melihat kehidupannya sebagai berkat dari Tuhan adalah mereka yang mampu bersyukur kepada-Nya dalam segala hal dan situasi. Mereka yang mampu bersyukur pada akhirnya melihat kehidupan ini bukan untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk sesamanya. Orang-orang seperti inilah yang akan mampu untuk berkorban, berbahagia, dan selamat.
(Fr. Giovanny Diamanti)
“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi…” (Luk. 10:21).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu bersyukur atas apa yang kami miliki dan alami. Amin.











