Hari biasa (H)
Flp. 1:18b-26; Mzm 42:2,3,5bcd; Luk 14: 1,7-11.
Chairil Tanjung pernah berkata, “Kehormatan kita adalah kepribadian kita. Saat kepribadian saja tidak punya, tak akan mungkin punya kehormatan”. Definisi ini secara spesifik mendeskripsikan kepribadian sama dengan kehormatan. Dikatakan keduanya sama berarti tidak terpisahkan, saling bertalian, dan koheren satu terhadap yang lain. Jika kehormatan sama dengan kepribadian maka konsekwensinya orang harus punya kepribadian yang baik. konsekwensi ini lalu menuntut setiap orang untuk memiliki karakter/kepribadian yang baik karena dari sanalah dia akan dihormati di dalam kelompok masyarakat tempat ia berada.
Bacaan pada hari ini, dalam satu jamuan makan, penginjil Lukas menceritakan bahwa: Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu”. Mengapa Yesus menganjurkan supaya kita tidak duduk di bangku terdepan dalam satu jamuan? Tempat di depan menunjuk pada tempat terhormat, tempat yang telah disediakan untuk mereka yang akan mengikuti jamuan makan tersebut. Dari ajaran ini Yesus sebenarnya tidak mempermasalahkan tempat, tetapi Ia mempermasalahkan sikap. Kalau Yesus berbicara tentang sikap, maka perhatian kita tertuju pada orang-orang Farisi. Mereka adalah tipe orang-orang yang suka cari muka. Mereka suka duduk di tempat terhormat baik di rumah-rumah ibadat maupun rumah jamuan. Gunanya adalah mencari pamor atau menunjukkan bahwa mereka adalah orang terpandang dan karena itu, mereka harus dihargai.
Yesus tidak ingin para murid mengikuti tabiat dari orang-orang Farisi. Jangan-jangan karena dalam tanda petik mereka adalah murid Kristus maka harus dilayani dengan baik. situasi ini akan menjerumuskan para murid untuk bersikap munafik. Yesus menginginkan supaya para murid dan kita tidak bersikap munafik.
Sebagai murid Kristus di dunia ini, kita mesti bersikap rendah hati. Kata rendah hati bukan berarti kita sedang mencari cara untuk dipuji tetapi kita tulus dalam cara dan tindakan kita. Banyak orang sering salah menggunakan kekuasaan untuk mendatangkan kehormatan. Sebagai seorang pengikut Kristus, Kita tentu bisa mendapatkan kehormatan. Kehormatan itu adalah kita mempunyai Kristus. Oleh karena kehormatan sebagai pengikut Kristus di dunia ini adalah memiliki Kristus sebagai Juru Selamat. Maka kita bisa belajar dari rasul Paulus. Walaupun didesak dari dua pihak, ia tetap memilih bersama-sama dengan Kristus dan itu memang baik.
(Fr. Salvatoris Duarmas)
“Sebab barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 14: 11).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, mampukan kami untuk menjadi pribadi yang baik yang selalu rendah hati. Amin.











