“Hukum Terbesar”: Renungan, Minggu 25 Oktober 2020

0
2270

Hari Minggu Biasa XXX (H)

Kel. 22:21-27; Mzm. 18:23a,3bc-4,47,51ab; 1Tes. 1:5c-10; Mat. 22:34-40

Dalam bacaan Injil kita membaca tentang seorang ahli Taurat. Seorang ahli Taurat adalah seorang yang mempelajari Taurat, Hukum Musa, dengan seksama. Dia pastilah tahu semua hukum atau perintah yang ada di dalamnya. Namun dia bermaksud mencobai Yesus. Dia datang bertanya kepada Yesus, “Manakah perintah yang terbesar?”

Tanpa cinta kepada Tuhan dan sesama, gelar akademik yang tinggi dapat berubah menjadi kesombongan. Kepintaran dapat menjadi alat setan untuk membodohi sesama. Pengetahuan dapat menjadi motor penggerak untuk menyangkal Tuhan.

Orang Yahudi mengenal 613 perintah (taryaq mitzwot). 248 adalah rumusan perintah negatif dan 365 adalah perintah yang dirumuskan secara positif. Ada perintah: “jangan membunuh, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan berzinah, jangan berjalan di luar tembok kota pada hari Tuhan, tidak boleh meninggalkan sisa makanan paskah sampai pagi hari, tidak boleh berjalan di luar tembok kota pada hari sabat, dstnya, dstnya…”.

Yesus menunjukkan perintah yang terbesar dengan mengutip Ul. 6:5: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu” dan Im. 19:18: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Perintah yang terbesar yaitu mencintai Tuhan dan sesama seperti diri sendiri.

Yesus menunjukkan bahwa pengetahuan-Nya tentang Hukum mengantar dia pada pengenalan yang benar mengenai Hukum yang terbesar. Hukum yang terpenting. Hukum yang menjadi pedoman bagi manusia untuk berbahagia dan berselamat.

Sebagai ciptaan Tuhan, kita diminta untuk pertama-tama mengasihi Tuhan. Kita mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaan kita sebagai ungkapan syukur kita atas hidup yang kita terima dari Tuhan.

Tetapi mengasihi Tuhan tidak dapat dilepaskan dari mengasihi sesama. Santo Yakobus mengatakan: “Bagaimana mungkin kita mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan padahal kita tidak mencintai sesama yang kelihatan?” Mana mungkin kita mencintai Tuhan tetapi menindas janda atau orang miskin yang tak berdaya? Itu omong kosong. Mana mungkin kita rajin masuk gereja tetapi tidak berbuat baik? Itu kebohongan. Mana mungkin kita rajin berdoa tetapi tidak membantu sesama? Itu penipuan. Mana mungkin kita menyembah Tuhan tetapi tidak menghormati sesama? Itu kefasikan. Dan itu semua mencelakakan diri kita sendiri.

Kita semua mau berbahagia dan selamat. Tuhan Yesus memberikan kita pedoman, perintah, yaitu kasihilah Tuhan dengan seutuhnya dan kasihilah sesama seperti diri sendiri. Inilah perintah untuk kemuliaan Tuhan, untuk kehidupan sesama, dan untuk kebahagiaan serta keselamatan kita. Itulah sebabnya, inilah perintah terbesar.

(Pst. Ventje F. Runtulalo, Pr)

“Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 22:40).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berilah aku kekuatan iman agar dapat mencintai-Mu dengan mencintai sesamaku seperti diriku sendiri. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini