“Belajar dari Yesus”: Renungan, Rabu 28 Oktober 2020

0
1559

Pesta S. Simon dan Yudas, Ras (M)

Ef. 2:19-22; Mzm. 19:23,4-5; Luk. 6:12-19

Dalam pemahaman kristiani, panggilan dalam diri manusia awalnya hanya diperkenalkan sebagai tindakan berjalan dengan mengikuti dorongan kodrat, hati dan budinya. Panggilan manusia yang secara perlahan disadari itu merupakan landasan bagi panggilan mulia, yang disampaikan oleh yang Mahakuasa kepada manusia untuk menjalin ikatan perjanjian, yaitu untuk menjadi umat-Nya. Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang Kristiani, bagaimana pun status atau jenjang hidup, mereka dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih.

Injil hari ini berbicara tentang panggilan murid-murid Yesus yang pertama yang kemudian disebut rasul. Ia juga mengajarkan kepada kita tentang seorang sosok pemimpin Kristiani. Di antara banyak karakter seorang pemimpin yang baik, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa karakter seorang pemimpin yang pokok adalah berbelas kasih.

Menjadi pengikut Yesus dan menjadi murid-Nya bukanlah suatu perkara yang mudah. Mungkin banyak di antara kita yang mengikuti Yesus karena telah menyaksikan dan mendengar apa yang dibuat-Nya. Menjadi pengikut Yesus berarti mampu menunjukkan belas kasih kepada sesama. Seperti Motto kepausan Paus Fransiskus “miserando etque eligendo: Ia berbelaskasih dan memilihnya”. Motto ini diambil dari pengalaman pribadi Paus ketika berusia 17 tahun saat menerima sakramen tobat dan merasakan kehadiran Tuhan. Pada saat yang sama ia merasakan panggilan Tuhan untuk menjadi imam. Apa yang diyakini Paus Fransiskus ialah bahwa ia dipanggil dan dipilih oleh belas kasih Allah. Belas kasih yang dialami ini kemudian membuat Paus Fransiskus menjadi rasul belas kasih, mewartakan dan menunjukkan belas kasih Allah kepada banyak orang.

Kita semua juga dipanggil menjadi pemimpin, yang pertama-tama memimpin diri sendiri dan kemudian dengan penuh kesadaran bahwa hidup kita adalah anugerah Allah karena belas kasih-Nya dan karenanya kita dituntut untuk membagikan belas kasih itu kepada sesama. Dari kodratnya yang sangat hakiki, menjadi murid Yesus menuntut suatu persahabatan yang mendalam dengan Kristus: “Aku menyebut kamu sahabat”, kata-Nya kepada para murid yang pertama saat Perjamuan Terakhir. Persahabatan dengan Kristus, bagaimana pun juga, bukanlah sesuatu yang datang secara otomatis. Ini harus diolah dalam doa, novena dan berpuncak pada Ekaristi.

(Fr. Hanny Ering)

“Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef. 2:22).

 

Marilah Berdoa:

Tuhan, bimbinglah dan bantulah aku agar aku selalu setia untuk menjadi murid-Mu dan berani mewartakan kebenaran tentang Engkau. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini