Hari Biasa (H)
1Kor. 3:1-9; Mzm. 33:12-13,14-15,20-21; Luk. 4:38-44.
Pandemi Covid-19 Tahun 2020, membuat situasi dunia agak lain dari tahun-tahun sebelumnya. Kecemasan, kesedihan, penderitaan, luka, bahkan kehilangan adalah hal-hal yang tentu dialami oleh banyak orang. Ada yang menyerah dan pasrah, tetapi ada juga yang senantiasa berjuang dan berusaha. Mereka yang berjuang dan berusaha tentu meyakini bahwa badai pandemi Covid-19 ini pasti akan berlalu. Pertanyaannya, di manakah kita bisa meletakkan harapan hidup kita?
Bacaan-bacaan hari ini memberikan kepada kita suatu penegasan bahwa Yesus adalah satu-satunya sumber dan jaminan kehidupan kita. Injil hari ini menampilkan peristiwa Yesus yang menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan orang-orang lain. Dikatakan bahwa Yesus menghardik demam itu dan sembuhlah wanita itu. Lebih lanjut lagi, semua orang yang menderita berbagai penyakit yang dibawa kepada Yesus pun akhirnya memperoleh kesembuhan. Kesembuhan sesungguhnya diperoleh karena kepercayaan akan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Dalam bacaan pertama juga kita bisa melihat bagaimana Allah senantiasa memberikan kehidupan kepada manusia. Allah tidak membeda-bedakan dan tidak membanding-bandingkan. Allah justru merawat dan memberikan pertumbuhan kepada kita semua. Sesuai dengan janji-Nya, bahwa Allah tidak akan membiarkan kita, Allah senantiasa akan menyertai kita sampai akhir hidup kita.
Dalam kehidupan, kita seringkali mengalami kekecewaan. Apalagi di saat kita sakit, menderita, dan ditinggalkan. Tidak ada lagi harapan, yang ada hanyalah putus asa dan semangat yang hilang. Bacaan-bacaan hari ini memberikan pesan kepada kita untuk senantiasa menaruh kepercayaan kita kepada Allah. Allah satu-satunya sumber keselamatan dan sumber kehidupan. Meskipun kehidupan di dunia diancam oleh berbagai virus dan wabah, percayalah bahwa Allah tetap akan menjaga dan melindungi kita semua. Kepercayaan dan kesetiaan kepada Allah senantiasa harus kita tampilkan dalam kehidupan konkret kita setiap hari. Dengan banyak berdoa dan berbuat baik kepada sesama menunjukkan bahwa kepercayaan kita kepada Allah ternyata memberikan buah yang baik. Jika kita percaya bahwa Allah sumber kehidupan kita, maka tentu kita akan mengalami kehidupan yang aman dan damai meskipun kita berada di tengah badai yang datang silih berganti mengancam kehidupan kita.
(Fr. Sebastian Manorek)
“Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Kor. 3:7).
Marilah berdoa:
Kuatkanlah dan buatlah kami untuk semakin percaya pada rencana dan kehendak-Mu, ya Allah. Amin.











