“Upaya Kesalehan”: Renungan, Sabtu 5 September 2020

0
1525

Hari Biasa (H)

1Kor. 4:6b-15; Mzm. 145:17-18,19-20,21; Luk. 6:1-5

Kesalehan adalah salah satu bukti bahwa seseorang itu rendah hati. Orang rendah hati adalah orang yang senantiasa melihat dan melakukan kebaikan. Menjadi orang saleh memang tidaklah mudah, sebab orang bisa menjadi saleh jika ia rendah hati. Rendah hati harus datang dari diri sendiri kepada orang lain. Kerendahan hati menjadi modal dasar agar orang bisa sampai pada kesalehan.

Dalam bacaan pertama, dari surat pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus ditegaskan bagaimana supaya kita bisa menjadi rendah hati. Paulus ingin supaya kita tetap rendah hati walaupun kita telah memiliki segala kenikmatan duniawi. Bahkan walaupun kita berada dalam posisi yang paling rendah sekalipun kita harus rendah hati. Kita dapat belajar bahwa meski kita lapar, dimaki, dianiaya, dilecehkan, dan difitnah kita mesti membalasnya dengan kasih. Sebab dengan demikian kita bisa menciptakan kerendahan hati dalam diri kita sendiri.

Selanjutnya dalam Injil ditunjukkan bagaimana kesalehan palsu ditampilkan kaum Farisi. Mereka selalu tampil dengan wibawa sebagai seorang rabi agar dilihat banyak orang bahwa mereka adalah orang saleh. Dikisahkan pula bahwa pada hari Sabat para murid memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat kejadian itu orang Farisi menuntut para murid untuk taat pada hukum yang berlaku pada hari Sabat. Hukum Taurat harus ditaati secara ketat, dalam hal ini larangan bekerja pada hari Sabat. Orang Farisi berpendapat bahwa memetik gandum pada hari Sabat merupakan pelanggaran atas hukum itu.

Sebagai orang yang merasa baik dan saleh, dan senantiasa melakukan segala perbuatan baik, mereka harusnya tidak bertindak demikian. Mereka tidak sadar bahwa Allah selalu tinggal di dalam hati manusia, sehingga pada hari sabat pun manusia perlu melakukan kebaikan. Nampak bahwa mereka hanya mengatasnamakan hukum dan tidak melaksanakan hukum itu dengan benar. Sehingga Yesus menegaskan kepada mereka bahwa ajaran serta karya-karya-Nya lebih berkuasa atas hukum Taurat, termasuk peraturan tentang hari Sabat itu sendiri.

Marilah kita hidup dengan kerendahan hati. Mari berbuat baik dan tidak menyusahkan orang lain. Marilah kita belajar dari Maria yang penuh kesalehan dan kerendahan hati. Marilah kita belajar juga dari Yesus bagaimana menjadi pribadi yang rendah hati walaupun banyak dibenci orang. Sehingga kita bisa hidup dengan tenang dan selalu berpegang pada perintah Tuhan.

(Redaksi LJ)

 “Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”” (Luk. 6:5)

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, perkenankanlah aku agar dapat menjadi orang yang saleh. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini