“Sukacita di Balik Dukacita” Renungan, Selasa 15 September 2020

0
2739

Pw. Santa Perawan Maria Berdukacita

Ibr 5:7-9, mzm 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20; Yoh 19:25-27.

Setiap manusia pasti pernah mengalami situasi sulit dalam hidupnya atau yang biasa disebut penderitaan. Ketika manusia mengalami penderitaan, manusia merasa ditinggalkan oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan tak jarang manusia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Dampak dari penderitaan itu adalah suatu dukacita yang mendalam yang membuat manusia sering jatuh dalam keputusasaan dan kehilangan harapan dalam menjalani kehidupannya.

Hari ini Gereja memperingati Bunda Maria yang berdukacita. Dukacita yang dialami oleh Maria merupakan dukacita yang amat besar bila dibandingkan dengan yang dialami oleh manusia. Bahkan bukan hanya satu dukacita saja, melainkan tujuh dukacita Maria. Terlebih ketika ia melihat sendiri kematian Puteranya Yesus di kayu salib. Hati Maria begitu hancur karena melihat sendiri penderitaan Anaknya. Dukacita yang dialami Maria memang dukacita yang benar-benar menguji kesabaran dan kesetiaan seorang ibu.

Dalam bacaan Injil hari ini, diceritakan mengenai Yesus yang tersalib dan di dekat salib Yesus berdirilah ibu-Nya yang senantiasa mendampingi-Nya hingga akhir. Dari situlah Yesus mempersembahkan kepada murid-Nya sosok ibu yang menjadi teladan dan murid itu pun menerima Maria.

Derita yang dirasakan manusia sebenarnya tidak seberapa bila dibandingkan dengan derita yang dialami oleh Maria, terlebih Yesus. Karena bagi Yesus dengan menderita berarti Ia taat kepada kehendak Bapa yang mengutus-Nya “Dan sekalipun ia adalah Anak, ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah ia mencapai puncak kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi orang yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:8-9).

Yesus mengajarkan bahwa derita yang dialami dapat menumbuhkan sikap taat, dan sikap taat itu akan berbuah suatu sukacita yaitu keselamatan. Karena manusia mau taat kepada kehendak Bapa. Seperti Maria yang sangat taat pada kehendak Bapa, walaupun berat tetapi Maria tetap percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan dia. Bahkan katanya: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Dengan bersikap taat seperti Maria, kita semua diajak untuk melihat penderitaan yang kita alami sebagai sebuah rencana yang indah dari Allah untuk kehidupan kita, sehingga kita tetap percaya bahwa di balik dukacita yang kita alami pastilah ada sukacita berlimpah dan harapan besar yang disiapkan Allah untuk hidup kita.

(Fr. Bosco Pontoh)

Ibu, inilah anakmu’. Kemudian Ia berkata kepada murid-murid-Nya, ‘inilah ibumu’” (Yoh. 19:26-27).

Marilah berdoa:

Yesus, kuatkan aku dalam menghadapi duka dan derita dalam hidupku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini