“Pangggilan Karena Benih Kebaikan”: Renungan, Senin 21 September 2020

0
1731

Pesta St. Matius, Rasul dan Pengarang Injil (M)

Ef. 4:1-7,11-13; Mzm. 19:23,4-5; Mat. 9 :9-13.

Setiap orang memiliki latar belakang hidup. Adalah hal yang wajar mengetahui latar belakang orang lain. Hal itu menjadi masalah apabila latar belakang menjadi penentu terbentuknya relasi antar pribadi. Pemahaman ini mendorong orang beranggapan bahwa teman adalah mereka yang memiliki latar belakang yang baik. Latar belakang hidup yang baik adalah kategori untuk membangun relasi. Apakah benar relasi baik  harus dibentuk dari latar belakang yang baik?

Dalam Injil diceritakan tentang Yesus dan Matius seorang pemungut cukai di Kapernaum, daerah Galilea. Dalam kalangan Yahudi, jabatan sebagai pemungut cukai merupakan jabatan yang dianggap “kotor”. Orang yang memiliki jabatan itu pun dianggap sebagai seorang berdosa. Mengapa demikian? Alasannya, pemungut cukai adalah kaki tangan orang Romawi. Kekaisaran Romawi dianggap sebagai penjajah. Pemungut cukai adalah orang-orang yang mencari keuntungan sebesar-besarnya dari masyarakat yang ada. Itulah sebabnya mereka sangat dijauhi dalam pergaulan.

Yesus hadir sebagai seorang yang penuh belas kasih dan bijaksana. Yesus tahu latar belakang Matius. Meskipun demikian, Yesus melihat dan memanggilnya, “Ikutlah Aku”. Yesus pun makan bersama dengan dia dan orang-orang berdosa lainnya. Itulah sebabnya, orang-orang Farisi mempertanyakan tentang sikap Yesus. Yesus tidak melihat latar belakang seseorang. Yesus melihat bahwa dalam diri setiap orang ada benih kebaikan. Panggilan Yesus dan tanggapan Matius kepada-Nya mengubah hidup seorang pendosa (Matius). Matius menjadi seorang murid Yesus. Matius menjadi pewarta tentang Yesus. Matius tidak dianggap sebagai pendosa, tetapi seorang kudus. Matius menjadi rasul dan pengarang Injil. Itulah sebabnya, (pada hari ini) Gereja merayakan pesta St. Matius.

Saudara yang terkasih, panggilan Yesus memengaruhi sikap Matius. Hal itu sejalan dengan ungkapan rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus, “…supaya hidupmu sebagai orang-orang yang dipanggil berpadanan dengan panggilan itu”. Panggilan itu harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan. Kita dipanggil untuk melihat benih kebaikan dalam diri sendiri dan orang lain, bukan latar belakang yang membelenggu diri. Yesus selalu melihat kita. Itu berarti kita memiliki kesempatan untuk dipanggil oleh-Nya. Matius menanggapinya dan menjadi pengikut Kristus. Kita memiliki latar belakang dan benih kebaikan. Apa tanggapan kita, ketika Yesus berkata, “Anak-Ku, Aku mencintaimu. Mari ikut bersama-Ku”?

(Fr. Jefry Lumentut)

 “…Kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus” (Ef. 4:7).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, bantulah kami melihat benih kebaikan dalam diri orang lain. Amin.

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini