“Hakim bagi Dunia”: Renungan, Jumat 11 September 2020

0
1666

Hari Biasa (H)

1 Kor. 9:16-19,22b-27; Mzm. 84:3,4,5,6,12; Luk.6:39-42

Saudaraku, melalui pesan Sabda hari ini, kita diajarkan tentang siapa yang pantas menghakimi. Salah satu pandangan para pemikir yang hidup di era pasca modern berpendapat bahwa kebenaran bersifat relatif, lokal, dan diikat oleh kebudayaan tertentu. Ada satu kebenaran yang mutlak, dan berlaku universal yaitu kebenaran yang diwahyukan Tuhan sendiri. Jadi, Tuhan Sumber Kebenaran berhak menghakimi orang-orang yang menolak kebenaran-Nya atau yang merelatifkan kebenaran itu.

Injil hari ini berkisah tentang siapa yang berhak menghakimi seseorang, benar atau tidak. Akan tetapi, pembahasannya sangat berbeda dari pandangan pasca modern. Jelas yang berhak menghakimi adalah Tuhan, Sumber Kebenaran. Sedangkan kita, anak-anak-Nya, walaupun sudah hidup dalam kebenaran, tetapi bukan Sumber Kebenaran itu. Kita juga belum sempurna dalam menaati dan melakukan suatu kebenaran. Oleh sebab itu kita tidak berhak menilai dan menghakimi orang lain, atas cara hidup atau sikap mereka terhadap kebenaran itu sendiri.

Ada dua bahaya mengancam orang yang suka menghakimi orang lain. Pertama, mereka menjadikan diri mereka “Allah” atas orang lain. Kedua, mereka buta terhadap kelemahan diri karena terlalu berfokus kepada kesalahan orang lain. Pada akhirnya, karena mereka adalah orang buta yang mencoba menuntun orang buta lainnya, mereka terjatuh ke dalam lubang yang sama.

Perumpamaan Yesus mengenai orang buta menuntun orang buta, mengajak kita untuk tidak gampang menilai orang lain. Yesus mengajak kita untuk lebih menilai diri daripada menilai orang lain. Kalau kita mau menilai orang lain, lihatlah diri sendiri terlebih dahulu. Apakah kita seperti orang itu atau tidak? Apakah kita melakukan hal yang sama atau tidak? Jangan buru-buru menilai orang lain, sedangkan kita memiliki kekurangan pesis seperti orang itu. Bercermin pada diri sendiri, akan membuat diri kita menjadi lebih bijaksana, bisa mengendalikan diri, dan tidak gampang mengumpat kesalahan orang lain. Maka, ingatlah bahwa Dia yang menciptakan semua manusia dan yang adalah Sumber Kebenaran, memiliki kuasa untuk menghakimi semua manusia.

(Fr. Damianus Batlayeri)

“Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?” (Luk. 6:39).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ampunilah aku jika aku jatuh dalam kemunafikan. Bantulah aku dengan rahmat-Mu, agar aku selalu bercermin diri setiap kali akan berkata atau bertindak. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini