“Berbahagialah yang Mengandalkan Tuhan”: Renungan, Rabu 9 September 2020

0
2006

Hari Biasa (H)

1Kor. 7:25-31; Mzm. 45:11-31, 14-15, 16-17; Luk. 6:20-26

 Ada banyak kasus yang terjadi di negara kita, perihal iman dan ragam perbedaan dijadikan isu untuk merusak tatanan hidup bersama. Persoalan menjadi lebih pelik ketika pihak yang satu maupun pihak yang lain dengan kepentingannya mengklaim diri sebagai kelompok yang paling benar dan suci. Barangkali ketika imannya dipandang sebagai ajaran yang benar, satu-satunya yang benar, adalah bentuk iman yang dipertahankan oleh karena keyakinan itu muncul di dalam perbedaan yang ada. Ruang kesetaraan dan keadilan bagi setiap orang masih menjadi perjuangan terus menerus untuk bangsa ini. Penghayatan iman dan keberanian mengakui identitas Kristiani menjadi sikap dan dasar kemuridan Kristus, meski memiliki konsekuensi yang tidak mudah. Prinsip kemanusiaan dan persatuan dalam Pancasila, melegitimasi semua kekuasaan yang mengatasnamakan pribadi atau kelompok tertentu.

Yesus melalui Sabda Bahagia menunjukkan konsekuensi dan resiko yang mungkin akan dihadapi karena iman dan tindakan kebenaran. Perwujudan iman di tengah dunia memungkinkan setiap orang untuk berhadapan dengan persoalan, tantangan dan sikap-sikap yang menyakitkan pun sikap-sikap yang menyenangkan hati. Terbuka kemungkinan juga martabat kemanusiaan diasingkan dan taruhan nyawa sebagai konsekuensi akhir atas cara itu. Yesus memberikan peneguhan dan janji bahagia bila kita setia menghidupi iman-Nya. Inilah yang menguatkan kita untuk berani menunjukkan identitas kristiani dan mewujudkannya dalam cara hidup setiap hari.

Miskin atau kaya itu relatif, tergantung sudut pandang apa yang kita pakai. Orang yang miskin adalah orang yang terbuka hatinya untuk menerima anugerah-anugerah Allah, yang hatinya bergantung sepenuhnya pada Allah dan mengharapkan campur tangan Allah di dalam hidupnya. Sikap hati yang demikian akan menganggap apa yang dimilikinya sebagai berkat Allah untuk disalurkan kepada orang banyak. Bagi Yesus, orang-orang seperti inilah yang empunya Kerajaan Allah, karena mereka terbuka hatinya dan bermurah hati demi kepentingan bersama. Sikap hati yang tidak mau berbagi kepada orang yang berkekurangan; sikap hati yang tidak peka dan tidak peduli kepada orang-orang yang kurang beruntung, yang miskin dan kelaparan, menjadi sorotan Yesus. Karena itu, Gereja terus menerus menggerakkan hati umat-Nya untuk terbuka hati pertama-tama kepada Allah dan terus menerus berbagi kepada sesama. Inilah semangat kemiskinan Kristiani.

(Fr. Amatus Simon Petrus Letsoin)

 

“Berbahagialah, orang yang miskin, karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk. 6:20).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Yesus, gerakkanlah hatiku untuk terus berbagi apa yang aku miliki kepada orang yang menderita dan berkekurangan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini