“Pewarta Kabar Baik”: Renungan, Senin 31 Agustus 2020

0
2120

Hari Biasa (H).

1Kor. 2:1-5; Mzm. 119:97,98,99,100,101,102; Luk. 4:16-30

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Situasi ini menuntut manusia untuk saling membantu satu sama lain. Maka, tindakan membantu orang lain merupakan tindakan kemanusiaan untuk menghidupkan orang lain. Penjelasan ini hendak menghantar kita pada pemahaman bahwa di dunia ini ada banyak orang yang masih sedang berjuang untuk tetap hidup.

Yesus dalam bacaan Injil mewartakan dan menekankan siapa saja yang sangat membutuhkan pertolongan kita. Mereka adalah orang-orang miskin, orang-orang tertawan, dan orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik. Orang-orang yang berada setara dengan golongan inilah yang perlu mendapat uluran tangan dari kita. Tindakan untuk membantu mereka tidak harus selalu dengan materi melainkan dengan penguatan atau motivasi tertentu. Poin penting yang ditekankan oleh Yesus ialah warta kabar baik yakni Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah sumber kekuatan bagi kita umat manusia. Maka, untuk membantu orang lain tetap hidup, kita perlu menuntun mereka untuk dapat menghayati dan menjalankan nilai-nilai Injili. Kita dituntut untuk menjadi pewarta kabar baik Tuhan. Dengan cara demikian, Roh Tuhan akan turun atas mereka sehingga mereka akan tetap hidup dalam naungan cinta kasih Tuhan.

Menjadi seorang pewarta bukanlah satu tugas yang mudah. Yesus sendiri dalam bacaan Injil mengalami penolakan ketika sedang mengajar kepada orang-orang di tempat asal-Nya sendiri. Kendati demikian, Yesus tidak gentar dan takut sebab Roh Allah ada pada-Nya. Misi untuk mewartakan kabar baik tetap terus Ia laksanakan demi untuk menyelamatkan manusia. Paulus juga dalam bacaan pertama sempat merasa sangat ketakutan dan gentar dalam menjalankan tugas pewartaan kepada jemaat di Korintus. Namun karena dia menaruh perhatian penuh pada Yesus Kristus yang ia wartakan maka keyakinan inilah yang memberikan Roh bagi dia sehingga dia tetap kuat untuk menjalankan misi ini. Penyerahan diri kepada Allah menjadi kekuatan utama Paulus dalam menjalankan tugas pewartaan.

Saudara-saudari sekalian, marilah kita menjadi pewarta kabar baik Tuhan kepada mereka yang membutuhkan kekuatan untuk menjalani dan menghadapi berbagai rintangan kehidupan. Dengan demikian, kita bisa memberi harapan kepada orang lain untuk tetap berjuang bersama dalam memanggul salib hidup kita masing-masing. Firman Tuhan yang kita wartakan merupakan sumber kekuatan dan pedoman hidup untuk dapat menghadapi berbagai tantangan hidup ini.

(Fr. Andreas Masaroni)

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik” (Luk. 4:18).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk dapat menjadi saluran rahmat cinta kasih-Mu bagi orang lain. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini