Pw S. Yohanes Maria Vianney, Im (P).
Yer. 30:1-2, 12-15, 18-22; Mzm. 102:16-18, 19-21, 29, 22-23; Mat. 15:1-2, 10-14; atau dr Ruybs.
Kebersihan diri merupakan hal yang penting bagi manusia demi kesehatannya. Setiap manusia selalu ingin agar dirinya terlihat bersih. Begitu pun kita selalu mengusahakan kebersihan diri kita. Dan jika seseorang melihat seorang yang tidak menjaga kebersihannya, maka seseorang tersebut dapat memiliki pandangan negatif terhadapnya. Dan apa lagi jika menjaga kebersihan itu sudah menjadi tradisi di suatu daerah dan hukumnya wajib.
Bacaan Injil hari ini berbicara tentang Perintah Allah dan adat istiadat Yahudi. Orang Farisi membuat sejumlah tradisi yang dimaksudkan untuk menjamin pelaksanaan hukum yang tertulis. Menurut hukum Taurat jika orang menyentuh sesuatu yang najis sebelum makan, makanan yang disentuhnya juga menjadi najis. Orang Yahudi mengusahakan dirinya tahir agar hubungan dengan Allah terjaga dengan baik, yaitu dengan hanya menyantap makanan yang diizinkan hukum Taurat. Bacaan Injil telah memperlihatkan, bagaimana pertentangan yang terjadi antara orang-orang Farisi, ahli Taurat dengan Yesus. Mereka datang kepada Yesus dan berkata: “Mengapa murid-muridMu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Kata Yesus ini mau menegaskan bahwa bukan makanan yang membuat orang menjadi najis, melainkan pikiran dan perkataan orang itu.
Pesan apa yang dapat kita ambil lewat bacaan Injil hari ini. Pertama, menjaga kebersihan jiwa kita. Karena kita yang menjaga tubuh kita juga pada saatnya nanti akan mengalami kehancuran tubuh itu sendiri. Namun kita yang menjaga kebersihan jiwa kita telah memeliharanya untuk hidup yang abadi. Kedua, kita belajar untuk tidak menjadi seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Kita belajar untuk menjadi orang yang melihat kesalahan di dalam diri sendiri dan bukan melihat kesalahan orang lain. Karena apa yang keluar dari pikiran dan perkataan, itulah yang dapat menajiskan kita.
(Fr. Eky Lampeuro)
“Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat. 15:11).
Marilah berdoa:
Tuhan, mampukanlah aku untuk mengikuti Firman-Mu. Amin.











