“Pengikut yang Sebenarnya”: Renungan, Jumat 28 Agustus 2020

0
1959

Pw S. Augustinus, UskPujG (P)

1 Kor. 1:17-25; Mzm. 33:1-2,45,10ab,11; Mat.25:1-13.

“Aku akan membinasakan hikmat orang-orang arif dan melenyapkan kearifan orang-orang bijak”. Di manakah terdapat orang berhikmat? Di manakah sih ahli Taurat? Di manakah orang cerdik pandai dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Sebab, hikmat Allah telah menentukan bahwa dunia dengan hikmatnya tidak mengenal Allah. Kutipan dari bacaan yang pertama ini, hendak mengantar kita untuk melihat siapa yang sebenarnya percaya akan Tuhan. Mereka yang percaya pada-Nya tentulah diselamatkan. Perlu dilihat bahwa keselamatan sendiri hanya disediakan oleh Allah bagi siapa saja yang mau mengikut dan melaksanakan segala kehendak dan ketetapan-Nya.

Perumpamaan yang kita lihat dalam Injil hari ini berbicara mengenai gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. Kisah ini dapat memberikan kita suatu pelajaran menarik. Pelajaran yang bisa kita ambil yakni hendaklah kita senantiasa berjaga-jaga dan selalu percaya kepada Tuhan. Seperti dalam bait pengantar Injil, « Berjaga-jagalah dan berdoalah selalu, agar kalian layak berdiri di hadapan Allah » (Luk 21:36). Hal ini sudah ditunjukkan oleh gadis-gadis yang bijaksana dan tidak seperti gadis-gadis yang bodoh.

Seperti dalam bacaan pertama, siapa yang benar-benar menjadi pengikut Tuhan akan diselamatkan. Begitu pula pesan yang hendak disampaikan dalam kisah Injil itu. Walaupun memiliki motif yang sama yakni sebagai pengikut Tuhan, toh akhirnya kita bisa melihat siapa yang benar-benar merupakan pengikut yang sejati. Pengikut Tuhan yang sesungguhnya ialah gadis-gadis yang bijaksana. Yang bijaksana diperlihatkan tidak khawatir dengan apa yang terjadi ketika pengantin terlambat datang sebab mereka memiliki persiapan yang bagus dan memasrahkan semuanya kepada penyelenggaraan Tuhan. Ini sangat berbeda dengan gadis-gadis yang bodoh, di mana mereka tidak percaya akan penyelenggaraan Tuhan. Akhirnya mereka tidak diperkenankan masuk ke dalam pesta seperti gadis-gadis yang bijaksana.

Dalam kehidupan kita, sering kali kita mengaku bahwa kita adalah pengikut Tuhan yang sejati. Namun nyatanya tidak seperti yang dipikirkan. Kita menyebut diri kita sebagai pengikut Tuhan tetapi tidak mengenal-Nya, tidak percaya kepada-Nya, dan tidak memasrahkan diri pada penyelenggaraan-Nya. Maka dari itu, mari kita mengenal Dia, percaya dan memasrahkan diri seutuhnya hanya kapada-Nya. Marilah kita sungguh berusaha untuk menjadi pengikut Tuhan yang setia.

(Fr. Brian Leonardus Salea)

“Sebab, firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan”
(Mzm. 33:4).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah aku menjadi pengikut-Mu yang setia dan selalu berusaha melakukan kehendak-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini