Hari Biasa (H)
2Tes. 3:6-10,16-18; Mzm. 128:1-2,4-5; Mat. 23:27-32.
Pada tahun 1508 Michelangelo ditugaskan oleh Paus Julius II untuk melukis kembali langit-langit kapel yang sebelumnya berhiaskan lukisan bintang-bintang emas di langit biru. Ada cerita menarik di balik pekerjaan itu. Ketika Michelangelo sedang sibuk melukisi sudut yang tak terlihat di kapel Sistina, ia ditanyai oleh orang-orang yang membantunya. “Mengapa ia membuang banyak waktu untuk mempercantik bagian langit-langit yang tak mungkin dilihat orang-orang?” Dengan tenang ia menjawab, “Allah melihatnya”.
Yesus dalam bacaan Injil secara terang-terangan mengecam perilaku para ahli Taurat dan kaum Farisi yang hanya mementingkan hal-hal luaran. Mereka mengira bahwa jika hal-hal luaran sudah baik maka hidup mereka sudah selamat. Yesus menyebut kemunafikan mereka sebagai hal-hal yang mencelakakan. Yesus juga mengumpamakan sikap mereka seperti halnya kuburan yang dilabur putih. Bagian dalam kuburan terdapat orang mati yang semakin lama akan semakin rusak dan akan tinggal tulang belulang. Di bagian luar kuburan, mau diperindah atau diperbesar bisa saja agar terlihat bersih dan bagus.
Ini sebenarnya mau memperlihatkan sikap baik yang mereka tunjukkan dari luar, tetapi bagian dalam, yaitu di dalam pikiran dan hatinya menyimpan sifat yang tidak baik atau sifat jahat. Hal itu semata-mata untuk memuaskan keinginan daging yang dipenuhi oleh jiwa nafsu duniawi. Mereka tidak tahu bahwa Allah melihat semuanya, baik yang di luar maupun di dalam hati setiap orang. Dan itu sangat dikecam oleh Yesus.
Demikian pula Paulus mengungkapkan tegurannya kepada umat di Tesalonika atas hal-hal yang dipandangnya kurang sesuai dengan kebenaran Injil. “Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami.” Paulus sendiri menyadarkan agar supaya melakukan pekerjaan seturut ajaran yang telah diterima.
Orang harus bertekun dan bersemangat melakukan pekerjaan yang dikehendaki oleh Allah. Pekerjaan yang dikehendaki oleh Allah menuntut kerelaan hati dan sikap kasih yang tulus baik dari dalam hati maupun hal luaran yang ditunjukkan. Dengan demikian akan membawa pada kepenuhan surgawi, yaitu keselamatan.
Melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah adalah hal yang paling utama. Allah melihat segala pekerjaan kita bukan saja dari yang nampak pada sikap kita. Melainkan paling dalam dari diri kita, yaitu hati yang sepenuhnya beralaskan kasih dan kebenaran dari Allah. Semoga rahmat Tuhan selalu menolong dan memberkati kita semua.
(Fr. William Jansen)
“Jika seorang tidak tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2Tes. 3: 10b).
Marilah berdoa:
Ya Allah, sinarilah kami dengan cahaya kebenaran–Mu. Amin.











