PW Santo Benedictus Abas (P)
Yes. 6:1-8: Mzm. 93:1ab.1c-2,5; 8-9; Mat. 10;24-33
Saudara terkasih, Allah memanggil setiap orang dengan cara yang unik dan berbeda satu sama lain. Panggilan Allah adalah rahmat berlimpah bagi seluruh umat kesayangan-Nya. Panggilan menjadi murid Yesus merupakan suatu pilihan yang harus diambil oleh umat yang percaya kepada-Nya. Pilihan untuk menjadi pengikut atau murid Yesus mengandung atau membawa konsekuensi yang berat. Konsekuensi yang terberat adalah kehilangan nyawa. Hal ini membuat banyak orang tidak mau atau melarikan diri dari panggilan yang mulia ini, bahkan ada yang telah menerima dan melaksanakan panggilan tetapi lari di tengah jalan.
Bacaan pertama melukiskan tentang panggilan Allah kepada nabi Yesaya. Nabi Yesaya mendengar suara Allah yang berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Yesaya menjawab katanya, “Inilah aku, utuslah Aku”. Suara Allah kepada nabi Yesaya merupakan panggilan istimewa. Ungkapan nabi Yesaya menunjukkan ketaatannya kepada Allah, karena ia percaya bahwa Allah benar-benar ada dan mengasihi hidupnya. Panggilan Allah kepada nabi Yesaya menunjukkan bagaimana Allah mengasihi umat-Nya. Nabi Yesaya menjadi orang pilihan Allah untuk menyelamatkan umat-Nya yang jatuh karena dosa.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana sikap dan tindakan yang perlu untuk menjadi seorang murid Yesus. Yesus mengajarkan para murid-Nya supaya jangan takut menjadi pengikut-pengikut-Nya. Yesus mendorong para murid supaya tidak takut menghadapi perlawanan dari orang-orang yang menolak-Nya. Hal ini perlu bagi para murid agar mereka tidak meninggalkan perutusan dan setia kepada Yesus. Yesus yang memanggil para murid-Nya tidak akan pernah meninggalkan mereka. Ia senantiasa hadir dalam seluruh dinamika kehidupan para murid-Nya. Oleh sebab itu, Yesus mengharapkan para murid-Nya untuk tidak takut.
Saudara terkasih, bacaan-bacaan hari ini mau mengajak kita untuk senantiasa menyadari panggilan yang telah dikaruniakan Tuhan kepada umat-Nya. Kesadaran akan hal ini akan membawa kita pada kesetiaan terhadap Yesus sendiri dalam mewartakan kabar sukacita-Nya. Kesetiaan kepada kehendak dan rencana Allah akan membawa kita semua pada kebahagiaan sebagai pengikut Kristus. Yesus juga berpesan dalam mewartakan kabar sukacita, para murid-Nya diminta untuk tidak merasa takut, sebab Ia tetap menyertai dan meletakkan mereka dalam pelukan-Nya.
(Fr. Mario Rumsory)
“Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Maka sahutku “Inilah aku, utuslah Aku” (Yes. 6:8).
Marilah berdoa:
Ya Bapa, mampukanlah kami untuk selalu taat dan setia kepada-Mu. Amin











