“Mengasihi Kristus”: Renungan, Rabu 22 Juli 2020

0
2078

Pesta S. Maria Magdalena (P)

Kid. 3:1-4a. atau 2Kor. 5:14-17; Mzm. 63:2, 3-4, 5-6, 8-9; Yoh. 20:1-2, 11-18

Hari ini, bersama dengan Gereja Universal kita merayakan pesta Sta. Maria Magdalena. Selain Maria, ibu Yesus, Maria Magdalena juga merupakan salah satu tokoh wanita yang populer dalam Injil. Ia adalah salah satu wanita yang disembuhkan Yesus (Luk.8:2). Ia juga termasuk wanita yang menyaksikan peristiwa penyaliban Yesus (Mat. 27:56) dan peristiwa pemakaman Yesus (Mat. 27:61). Berbagai peristiwa ini menunjukkan bahwa Maria Magdalena merupakan salah satu tokoh yang memiliki relasi kuat dengan Yesus.

Dalam Injil hari ini, kedekatan Maria Magdalena dengan Yesus itu ditampilkan kembali. Ketika ia pergi ke kubur Yesus didapatinya bahwa jenazah Yesus tak ada lagi di sana. Sekalipun kubur ditemuinya kosong, namun ia tetap senantiasa percaya kepada Tuhan. Karena kasihnya ini maka imannya kepada Tuhan berdiri kokoh. Kunjungannya ke makam Yesus terdengar hanya merupakan hal sederhana. Namun, karena itulah maka Ia  pun menjadi saksi pertama dari peristiwa kebangkitan Yesus. Demikianlah betapa ia mengasihi Kristus.

Sebagai pengikut Yesus, tentunya kita mengimani Dia sebagai Tuhan dan Penyelamat. Tapi iman saja belum cukup untuk berjumpa dengan Yesus. Kita mesti berharap dan mengasihi-Nya.  Harapan dan kasih itulah yang menghantar Maria Magdalena berjumpa dengan Yesus. Rasul Paulus dalam bacaan pertama menyatakan bahwa kasihlah yang menuntun manusia untuk mengerti peristiwa kebangkitan. Dengan kasih, kita tidak menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia atau ukuran daging. Dan dengan kasih itulah kita akan berada dalam Kristus.

Iman, harap dan kasih, membantu kita untuk dapat  sungguh berjumpa dengan Yesus. Iman menuntut agar kita percaya. Harap mengajak kita untuk berserah pada Yesus. Buah dari semua itu ialah kasih. Dengan beriman dan berharap pada Yesus, kita akan dikuasai oleh kasih Kristus itu sendiri. Maria Magdalena telah membuktikan bukti kasihnya kepada Tuhan. Untuk itu, sebagai umat beriman kita bukan saja percaya dan berharap pada Kristus, tapi juga punya kasih. Kasih yang tulus menuntun kita agar kelak bisa sungguh-sungguh “melihat Tuhan”.

(Fr. Frans Labia)

“···Siapakah yang engkau cari?” (Yoh. 20:15).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus Kristus, semoga aku senantiasa mengasihi Engkau yang hadir dalam sesamaku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini