“Menebar Cinta”: Renungan, Kamis 9 Juli 2020

0
1952

Hari biasa (H)

Hos. 11:1b.3-4.8c-9; Mzm. 80:2ac.3b.15-16; Mat. 10:7-15.

Seringkali dalam benak muncul pikiran bahwa kasih Allah relatif semata-mata. Jika Allah benar-benar Maha kasih mengapa neraka, penghakiman, dan derita harus melekat pada manusia? Ketika asumsi tentang Allah mencapai titik ini, maka baiklah merefleksikan kembali cerita tentang Adam dan Hawa. Awalnya hanyalah kebahagiaan sempurna adanya. Namun, kebahagiaan sempurna itu menjadi cacat ketika manusia menjerumuskan diri dalam dosa. Ingat bahwa Allah pernah mengatakan: “Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (Kej. 3:3). Setiap orang harus paham bahwa manusia mati dan menderita, bukan karena Allah menghendakinya, melainkan sebagai konsekuensi dari tindakan manusia melanggar perintah Allah. Sebagai Allah, Dia konsisten dengan peraturan-Nya. Sulit dibayangkan sosok Allah yang tidak tegas.

Konsistensi dan ketegasan Allah tidak memudarkan kesempurnaan kasih-Nya. Allah telah memilih mencintai manusia dan merencanakan karya keselamatan kepada kaumnya. Karena konsisten dan tegas dengan pilihan-Nya, dosa dan kejahatan manusia tak mampu menghalangi Tuhan untuk terus menyatakan cinta-Nya yang total dan sempurna, yakni dengan menyelamatkan manusia dari cengkeraman dosa dan penderitaan. Bacaan pertama hari ini sungguh-sungguh menceritakan bagaimana Allah yang Maha kasih tak ragu untuk memberikan cinta-Nya secara total kepada bangsa Israel.

Tujuan utama manusia dianugerahkan kehendak bebas adalah agar manusia dapat menanggapi kasih Allah dengan bebas, tanpa paksaan. Mengasihi dengan paksaan adalah tidak bernilai, tiada artinya. Bacaan Injil hari ini mengajak umat beriman untuk menanggapi kasih Allah dengan bebas. Sebagaimana para rasul diutus untuk mewartakan kasih Allah, ternyata masih ada orang-orang yang lewat tutur kata dan perbuatan baiknya telah menampilkan dalam dirinya sosok Sang Pencipta yang Maha kasih.  Setiap orang pun sebagai makhluk sosial harus menyadari bahwa dia hidup karena kebaikan orang lain. Maka, umat beriman yang telah hidup oleh kasih Allah harus menjadikan pengalaman dicintai itu sebagai pokok pewartaan kepada orang-orang yang belum mengenal Dia. Allah telah berinisiatif untuk menyatakan cinta-Nya kepada manusia, maka sepatutnya membangun inisiatif sebagai murid-murid Tuhan untuk mewartakan kasih Allah kepada semua orang. Berbuat, berpikir, berkata, dan bersikap baik adalah cara untuk memperkenalkan Allah Maha kasih bagi banyak orang.

(Rafael Montung)

Pergilah dan wartakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat. 10:7).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah kami untuk menyadari kasih-Mu dan desaklah kami untuk menjadi pewarta kasih-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini