“Judul”: Renungan, Rabu 29 Juli 2020

0
2014

Pw S. Marta (P)

1 Yoh. 4:7-16; Mzm. 34:2-3, 4-5, 6-7, 8-9, 10-11; Yoh. 11:19-27 atau Luk. 10:38-42.

Situasi penderitaan, kemalangan, dan musibah yang terjadi dalam kehidupan manusia, seringkali menciptakan rasa putus asa bagi orang yang mengalaminya. Misalnya COVID-19. Kehadiran COVID-19 yang telah mengakibatkan banyak kematian, membuat banyak orang menjadi frustasi, depresi dan dilema. Padahal bagi orang Kristiani, kita sesungguhnya memiliki sosok yang selalu diandalkan yakni Yesus Kristus. Namun, kita sering lupa akan Dia. Bahkan, orang terkadang menutup mata akan Dia yang berkuasa, karena terlalu sibuk dengan kemalangan yang dideritanya.

Bacaan-bacaan kitab suci hari ini sesungguhnya merupakan inspirasi bagi perjalanan iman kita ke depan. Secara khusus berkaitan dengan bagaimana cara kita untuk dapat menyerahkan diri kepada-Nya, kendati sementara mengalami penderitaan. Dalam bacaan pertama dikisahkan tentang Allah adalah kasih. Kasih Allah itu nampak melalui kehadiran Yesus Kristus sendiri. Yesus hadir untuk mendamaikan dan menyelamatkan semua umat manusia, asalkan kita percaya kepada-Nya. Sebagaimana, Maria dan Marta dalam bacaan Injil yang sangat percaya akan kuasa Yesus Kristus sendiri. Bagi Marta dan Maria, kepercayaan yang teguh kepada Yesus yang adalah jalan, kebenaran dan kehidupan telah mengalahkan segala duka dan kehilangan yang dialami mereka, ketika Lazarus saudara mereka meninggal. Bahkan, Marta mengatakan kepada Yesus, “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia”.

Kepercayaan mereka yang total dalam situasi kehilangan tersebut pun dijawab oleh Yesus. Yesus membangkitkan Lazarus. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus sangat menghargai setiap kepercayaan dan kesetiaan para pengikut-Nya. Selain itu, iman yang teguh dari seseorang pun sesungguhnya dapat bermanfaat bukan hanya bagi pribadinya sendiri, melainkan juga bagi orang lain.

Hari ini juga, Gereja memberikan penghormatan khusus kepada St. Marta, yang telah menunjukkan kesetiaan dan kepercayaan yang mendalam kepada Yesus. Oleh karena itu, patutlah kita mencontohi apa yang telah diperbuatnya. Tidak perlu melalui hal yang besar, tetapi hal-hal sederhana, seperti menunjukkan kesetiaan dan kepercayaan kepada suami, istri, anak-anak dan keluarga. Itulah cara untuk membantu kita dapat setia kepada Tuhan yang adalah kasih.

(Fr. Pieter Lermatan)

“Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang dalam dunia” (Yoh. 11:27).

Marilah berdoa:

Allah Bapa yang penuh kasih, jadikanlah hati kami seperti-Mu, hati yang penuh dengan kesetian dan kepercayaan, agar kami bisa memancarkan kesetiaan dan kepercayaan itu kepada orang-orang yang berada di sekitar kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini