“Berpihak kepada Sang Putra”: Renungan, Sabtu 18 Juli 2020

0
1696

Hari Biasa (H)

Mi. 2:1-5; Mzm. 10:1-2,3-4,7-8,14; Mat. 12:14-21.

Ketika menarik alur sejarah dunia pasti kita akan menjumpai beberapa tokoh yang  memperjuangkan kebebasan dan kebaikan orang banyak atau bangsanya sendiri. Dan dalam memperjuangkan cita-cita itu, tak jarang langkah mereka dikritik habis-habisan bahkan saking dianggap membahayakan, para tokoh pejuang ini diancam dengan kurungan penjara, penyiksaan hingga dapat berakhir dalam pembunuhan. Misalnya yang terjadi pada seorang yang bernama Nelson Mandela di Afrika Selatan dan Mahatma Gandhi di India. Mereka berdua adalah contoh dari sejarah dunia yang menampilkan sebuah pertentangan antara kebaikan dan kejahatan dalam memperjuangkan hak dan kemanusiaan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini dengan jelas menggambarkan situasi yang sama. Sebenarnya satu milenium lebih sebelum dua tokoh di atas ada, sudah ada sosok yang justru memperjuangkan bukan hanya nilai-nilai kemanusiaan dalam satu bangsa, tapi suara dan tindakan-Nya masuk lebih jauh dalam menyatakan bahwa identitas sejati manusia adalah anak-anak Allah. Sosok itu adalah Kristus.   Injil Matius mengisahkan bagaimana karya-karya Yesus yang memperjuangkan kebenaran dan kesembuhan, selalu mendapat pertentangan bahkan ancaman dari pihak Farisi. Polemik yang terjadi antara golongan Farisi bahkan kelompok Yahudi yang lain terhadap ajaran dan tindakan Kristus, sungguh tak sedikitpun menggetarkan hati-Nya, sebab Dia sadar bahwa perutusan-Nya di dunia bukan hanya memperjuangkan paham atau ideologi manusia tertentu tapi keselamatan umat manusia.

Nabi Mikha dalam nubuatnya menyuarakan nasib yang akan terjadi kepada setiap orang yang melawan kebenaran yaitu mereka yang senantiasa memposisikan diri sebagai yang paling benar atas dasar keuntungan dan nama baik sehingga memilih kejahatan untuk menentang setiap orang yang memperjuangkan kebenaran. Hal yang sama dikatakan dalam Kitab Mazmur, bahwa mereka yang menindas orang saleh dan benar, merekalah orang fasik, yang menjadikan tindakan kejahatan seolah-olah nampak membela keadilan dan nasib banyak orang, tapi sebenarnya mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri dan merugikan orang lain.

Sabda Tuhan hari ini merefleksikan dua sikap yang dapat dipilih oleh setiap orang, yaitu memilih Yesus berarti berpihak kepada kaum lemah, miskin, terpinggirkan dan tidak diperhitungkan atau memilih kefasikan, yang berarti mengkhianati martabat manusia yang berasal dari kebenaran yaitu Allah.

 (Fr. Paschalis Jaftoran)

“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia akan menjadikan hukum itu menang” (Mat. 12:20).

Marilah Berdoa :

Tuhan, beri aku kesanggupan untuk mengulurkan tangan kepada sesamaku yang menderita dan berkekurangan. Semoga kehadiranku menjadi penyalur berkat-Mu bagi sesamaku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini